Sedang Membuat Meja Berkaki Tiga? Hati-hati dengan Test Kestabilan

Dipandang dari sudut desain dan keindahan, meja dengan 3 kaki sangatlah menarik dan tentunya akan lebih murah biaya produksinya karena jumlah kaki berkurang satu. Namun anda patut berhati-hati dalam segi teknis untuk memastikan bahwa meja tersebut akan aman dan memiliki daya tahan kekuatan yang minimal sama dengan meja normal karena jika menilik di dalam standar umum test keamanan akan cukup rumit dan resiko kegagalan lebih besar.
Tes kestabilan menjadi bagian yang paling sulit, anda harus menghitung benar-benar posisi kaki pada daun meja, terutama pada bagian paling luar.

Semua jenis meja yang diekspor ke Eropa khususnya, akan melalui sebuah tes kestabilan untuk memastikan bahwa meja tersebut tidak akan terjungkal dalam posisi tertentu dan tekanan tertentu.

Petugas yang melakukan tes tersebut akan mencari titik luar 'terlemah' daripada daun meja untuk menentukan posisi beban. Dalam hal ini untuk meja berkaki tiga, garis terluar daun meja yang terletak di antara 2 kaki meja (B1 dan B2) adalah posisi maksimal sebuah daun meja bisa menerima beban dengan baik. Di luar garis tersebut, daya tahan daun meja terhadap kestabilan tekanan menjadi lebih lemah. Semakin besar ukuran daun meja dari garis tersebut, maka semakin rendah kestabilan meja berkaki tiga. Apalagi jika tekanan yang dibebankan lebih besar. Namun menurut standar Eropa, dengan ukuran meja setinggi kira-kira 50cm, tekanan maksimal adalah 10 kg.

Dari garis terluar daun meja, petugas akan menentukan titik pusat tekanan berjarak 5cm ke arah pusat daun meja. Nah, di sinilah letak kerumitannya. Perhatikan posisi 2 kaki meja yang menyentuh lantai, apabila garis pertemuan 2 kaki tersebut lebih besar daripada garis pada daun meja (B1 - B2), maka meja akan lebih stabil. Posisi paling ideal adalah persis sama dengan titik beban (lihat panah merah pada gambar di bawah ini.


Kesimpulannya, semakin besar jarak kaki meja yang menyentuh lantai dibandingkan dengan daun meja, semakin besar pula kestabilan meja. Berikut di bawah adalah beberapa contoh meja yang memiliki perencanaan baik untuk bisa lolos tes kestabilan.


Hal ini bisa anda terapkan juga pada saat membuat kursi atau bangku berkaki tiga. Dan sebenarnya tes pada kursi atau bangku akan jauh lebih sulit dibandingkan pada meja.

Mengapa Bambu Belum Bisa Menggantikan Kayu

Sejak dulu material kayu telah diketahui menjadi bahan baku utama pembuatan furniture. Dengan karakter seratnya yang memberikan kesan hangat dan permukaan yang halus, kayu menjadi pilihan utama dan klasik. Kemudian bambu juga diperkenalkan sebagai bahan alternatif furniture, mulai dengan sofa set lengkap dengan mejanya dan beberapa produk lain seperti rak buku, meja teras dan kursi santai.

Bentuk asli material bambu yang bulat dan penampang 'pipa' membuat keterbatasan para tukang dalam hal variasi bentuk dan jenis perabot. Akan tetap dengan teknis yang lebih mutakhir, sekarang bambu telah bisa diolah dengan cara yang mirip dengan kayu. Anda sekarang bisa melihat bambu dalam bentuk laminasi untuk dijadikan top table, kaki meja yang lebih besar atau lantai parket.

Hampir keseluruhan proses penglahan bambu mirip dengan proses mesin pada kayu, hanya saja ketebalan laminasi yang lebih terbatas pada bambu. Gambar foto di bawah adalah sebuah contoh produk meja yang dibuat dari bambu.


Walaupun secara teknis bambu bisa melalui proses pengerjaan seperti kayu. ada beberapa detail kayu yang tidak dimiliki oleh bambu. Berikut ini beberapa perbedaan tersebut:

1. Arah pemotongan
Bambu harus dipotong searah dengan seratnya atau anda akan mendapatkan ujung yang kasar. Tidak seperti kayu, kita bisa memotongnya hampir ke semua arah dan berbagai jenis garis (lurus atau lengkung)

2. Keterbatasan Ukuran
Apapun jenis bambunya, anda tidak akan bisa menemukan bahan bambu selebar kayu, misalnya jika anda ingin membuat dudukan bangku. Dan ketebalannya pun terbatas. Terutama jika anda ingin membuat vinir dari bambu, ketebalan minimal adalah 2mm. Bandingkan dengan vinir kayu yang bisa sangat tipis hingga 0,3mm!

3. Nilai Artistik
Kayu memiliki nilai artistik yang indah dengan adanya struktur serat kayu sesuai arah pemotongan dan pembelahannya. Sedangkan bambu hanya memiliki arah seart lurus tanpa adanya kombinasi warna atau ketebalan seratnya.

Jadi, masihkan bambu menjadi bahan yang baik untuk furniture? Sebagai jawabannya tentu saja masih, tapi kita harus memaksimalkan desain dan posisinya di dalam komponen. Karena dalam hal tertentu bambu memiliki juga kelebihan dari kayu.

Jangan Lupa Mengenakan Peralatan Keamanan Ini Saat Bekerja di Bengkel Kayu

Menggeluti hobi pertukangan kayu di rumah sendiri atau di bengkel sendiri tentunya menjadi hal yang sangat mengasyikkan untuk mengisi kegiatan di akhir minggu seperti ini. Tapi mengingat beberapa peralatan tukang kayu cukup berbahaya, ada baiknya anda membiasakan diri untuk senantiasa mengenakan peralatan keselamatan atau PPE (Personal Protection Equipment) di saat bekerja. Perlu sedikit 'paksaan' pada diri sendiri untuk menjadikannya sebuah kebiasaan agar nantinya anda akan merasa tidak nyaman apabila tidak memiliki PPE di tangan anda.

Pakaian Kerja
Hindari pakaian yang 'berkibar' atau mudah terlepas dari badan anda. Gunakan T-Shirt atau Polo Shirt yang nyaman. Di dalam bengkel kerja terdapat banyak peralatan yang menggunakan motor penggerak, bagian-bagian pakain yang 'berkibar' akan mudah tersangkut dan sangat berbahaya bagi keselamatan anda. Bagi anda kaum hawa, lebih baik ikat rambut panjang anda sedemikian rupa agar tidak mudah diterpa angin pergerakan motor alat kerja.

Sepatu
Banyaknya serpihan-serpihan kayu dan peralatan di lantai bengkel kerja sangat berbahaya bagi pergerakan anda. Anda harus menggunakan sepatu kerja yang kuat, kalau bisa yang ber-sol dari kayu atau besi, sehingga apabila anda menginjak benda tajam tanpa sengaja, misalnya paku, sekrup, atau bahkan pahat kayu, sepatu tersebut akan melindungi kaki anda dari sayatan. Pilihan lainnya bisa menggunakan sepatu dengan sol dari karet yang agak keras/kuat.

Masker Debu
Terdapat beberapa jenis masker (respirator) sesuai dengan tingkat kepadatan debu atau jenis partikel di udara bengkel. Tergantung pada proses apa yang sedang dilakukan, apakah di bagian amplas yang cenderung lebih banyak debu dari serbuk kayu, atau di proses finishing yang lebih banyak partikel bahan kimia akibat dari 'over spray' selama proses pengecatan.


Earplug
Apabila anda bekerja di bengkel sendiri yang terletak di area hunian, sebaiknya pastikan dahulu bahwa peralatan yang anda gunakan tidak akan mengganggu lingkungan sekitar dengan kebisingan. Apabila itu bukan hal yang mengganggu, maka gunaikan earplug yang sesuai dengan tingkat kebisingan tersebut.


Kacamata Anti Debu
Bila peralatan kerja anda tidak memiliki alat bantu yang memadai, sehingga debu gergaji atau tatal masih mudah beterbangan tak tentu arah, maka kacamata kerja (googles) sangat penting untuk digunakan.

Semua peralatan keamanan tersebut di atas memang tidaklah sangat nyaman untuk dikenakan, akan tetapi dengan merubahnya sebagai kebiasaan kerja anda, maka resiko paling fatal pun bisa dihindari.