Sandaran Sendok dan Garpu

Banyak benda di sekitar kita yang bisa dijadikan barang berguna walaupun seharusnya dibuang. Misalnya jika anda memiliki limbah potongan kayu dari produksi furniture (lihat foto di atas), potongan..

3 Hal Yang Perlu Diketahui Saat Memakai MC Tempel

Beberapa tukang kayu pada skala industri rumah tangga atau bahkan pabrik menengah mungkin jarang menggunakan Moisture Content (MC) meter model tempel dalam proses mereka mengontrol kekeringan kayu.

Fungsi Jaring di bawah Conveyor

Khususnya di ruang finishing yang menggunakan conveyor sebagai salah satu pendukung proses pengeringan, kita akan selalu menemukan jaring besi terpasang di bawah susunan conveyor tersebut. Dalam hal ini conveyor tidak hanya..

Konversi Kayu Log terhadap Kayu Gergajian

Seringkali ketika kita berbicara tentang volume kayu, kita harus menyamakan dulu 'bahasa' yang digunakan. Apakah volume tersebut untuk kayu gergajian atau kayu log. Mengapa? karena volume 100 m³ log bukan berarti 100 m³ kayu..

Solusi Pelebaran Papan tanpa Garis Alur

Menyusut, melengkung dan retak menjadi masalah utama kayu solid ketika kita ingin menggunakannya untuk bidang lebar. Oleh karena itulah dibuat papan buatan. Sering tentangkayu.com mendapat pertanyaan..

Penggunaan Mesin Bor Tidak Tepat

Minggu lalu kami mengunjungi sebuah pabrik kayu yang sedang membuat mainan untuk anak-anak. Pabrik tersebut memiliki beberapa mesin dasar kayu yang usianya mungkin sudah lebih dari 15 tahun dan sangat tidak terawat. Kondisi tersebut sebenarnya sangat disayangkan mengingat produk untuk anak haruslah sangat hati-hati dalam proses pengerjaanya. Yang paling menarik adalah mesin bor vertikal yang mereka gunakan untuk membuat takikkan pada kayu seperti gambar di atas. Selain mesin bor bukanlah mesin yang tepat untuk jenis pekerjaan tersebut, mata bor yang mereka gunakan juga bukan alat yang tepat untuk membuat takikan. Itu adalah mata bor untuk engsel sendok yang seharusnya tidak ada pergerakan ke samping karena akan sangat berbahaya bagi operator mesin.

Kami melihat pekerja menurunkan mata bor perlahan-lahan hingga kedalaman yang diinginkan, sebelum kemudian di menggeser benda kerja searah takikan. Mesin yang tepat untuk membuat konstruksi tersebut adalah mesin router atau frais atas yang memiliki mata pisau khusus untuk pergeseran ke samping karena terdapat mata pisau di sisi luarnya. Dan dengan mesin router/frais atas hasilnya akan terlihat lebih rapi karena putaran mesinnya (rpm) jauh lebih tinggi daripada mesin bor vertikal.

Dan mengenai aspek keselamatan, penggunaan mesin tersebut sangat berpotensi tinggi menyebabkan kecelakaan kerja. Jika saat ini mungkin anda melihat atau pernah melakukan hal yang sama, kami merekomendasikan untuk segera memperbaiki kebiasaan buruk tersebut.

EUTR 2013

European Union Timber Regulation (EUTR) telah diberlakukan sejak tanggal 3 Maret 2013 untuk mencegah penggunaan kayu ilegal pada produk kayu atau produk dari kayu yang dijual di pasar Eropa, khususnya di negara - negara anggota Uni Eropa. Saat ini tentunya setelah Brexit, Inggris kemungkinan akan membuat peraturan tersendiri mengenai distribusi kayu ilegal.
Mari kita ingat kembali apa saja masalah yang ditimbulkan oleh aktifitas penebangan liar bagi manusia. Ada 3 hal utama, yang pertama yaitu masalah ekonomi. Penebangan liar mengakibatkan sebagian besar pihak kehilangan pendapatan ekonomi dan keabsahan pihak yang melakukan aktifitas penebangan liar diragukan. Kedua adalah masalah lingkungan, yang mana aktifitas penebangan liar mengakibatkan berkurangnya luas lahan hutan yang berfungsi sangat vital terhadap perubahan cuaca dan mahkluk hidup di dalamnya. Dan yang ketiga adalah masalah sosial, hubungannya dengan kehidupan masyarakat lokal di sekitar hutan dan potensi timbulnya konflik dengan beberapa pihak tertentu.
Itulah sebabnya Uni Eropa berupaya untuk menghentikan aktifitas penebangan liar di negara asal kayu.


Lalu siapa saja yang akan merasakan langsung dampak dari peraturan baru ini?
Target dari peraturan ini adalah perusahaan-perusahaan yang bermaksud menjual produk kayu ke negara Uni Eropa, karena itulah hanya perusahaan yang memiliki jaringan ritel di Eropa yang terkena dampak langsung. Namun demikian secara otomatis perusahaan - perusahaan tersebut akan memberikan permintaan yang sama terhadap pabrik tempat mereka membeli produknya, dan dalam hal ini berarti pabrik furniture di Indonesia menjadi salah satu target untuk mematuhi peraturan tersebut.

Produk yang termasuk dalam peraturan ini meliputi sebagian besar produk mebel yang terbuat dari kayu atau produk lain berbahan baku kayu (kertas, peralatan dapur, dekorasi, dll). Namun tidak mencakup produk-produk yang menggunakan bahan daur ulang, palet kayu, bambu dan rotan. Kertas yang sudah ada cetakan gambar atau tulisan juga tidak termasuk.

Sebagai pabrik mebel, langkah utama yang harus dilakukan adalah dengan membuat kebijakan internal pabrik untuk membeli bahan baku kayu log hanya dari hutan yang dikelola dengan sistem reboisasi dan terkontrol. Di Indonesia ada yang namanya peraturan SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu), namun sayangnya sistem ini belum bisa sepenuhnya menjadi jaminan keabsahan kayu dan juga belum sepenuhnya dikenal oleh otoritas EUTR di Eropa.

9 Proses Penting Pembuatan Pensil

Dalam beberapa waktu yang lalu, kami mendapat kesempatan untuk bisa mengunjungi sebuah pabrik pensil yang sebagian besar produknya untuk ekspor dan hanya sekitar 10% untuk pasar lokal. Ekspor tersebut sebagian besar ke negara Amerika dan Brasil. Banyak hal yang bisa dipelajari dari kunjungan tersebut. Selain tentang detail proses pembuatan pensil, kami juga mendapatkan pengetahuan tentang aturan-aturan ekspor pensil yang diberlakukan oleh negara pengimpor tersebut.
Memasuki area produksi pabrik kami melihat bahwa para pekerja dan manajernya sangat memperhatikan kebersihan dan kerapian bangunan. Terbukti dengan adanya susunan barang yang teratur dan arus distribusi barang yang jelas. Walaupun pensil adalah sebuah produk yang kelihatannya sederhana, namun ternyata membutuhkan proses yang rumit dan butuh ketelitian yang tinggi.

Terdapat 9 proses penting dalam produksi pensil, berikut urutannya:

1. Persiapan lembaran-lembaran kayu solid setebal 4mm (ukuran standar). Atau tergantung pada diameter pensil ukuran jadi, lebih besar diameter tentu lebih tebal pula lembaran kayu yang disiapkan.
Panjang kayu disesuaikan panjang pensil, dengan sedikit kelebihan untuk pemotongan ukuran jadi, dan lebar kayu disesuaikan dengan jumlah pensil yang ingin dibuat. Di pabrik ini mereka membelah menjadi sekitar 8-9 batang pensil per lembar.

2. Lembaran-lembaran kayu tersebut kemudian dibuat alur searah serat dan ukuran grafitnya (grafit: isi pensil yang berfungsi membuat tanda tulisan) dengan mesin khusus.

3. Setelah selesai dialur, batang-batang grafit disusun dan dilapiskan lem khusus kayu untuk menempelkan lembaran kayu. Proses perakitan ini ditunggu hingga 8 jam hingga lem benar-benar kering.

4. Dengan mesin khusus juga, hasil rakitan pensil dibelah menjadi batang pensil. Hasilnya sangat bagus dan cepat. Kerusakan terjadi pada permukaan pensil akan tetapi sangat sedikit.

5. Pensil-pensil tersebut kemudian dihaluskan dan diolesi bahan cat dasar. Proses penghalusan tersebut sangat menarik, karena ratusan batang pensil disusun sejajar dan diletakkan ke dalam sebuah lingkaran elastis yang digerakkan dengan mesin sedemikian rupa sehingga seluruh batang pensil saling bergesekan satu sama lainnya. Gesekan-gesekan tersebut membaut permukaan batang pensil menjadi halus.

6. Kemudian mulailah proses finishing, yang sesuai dengan pengamatan kami terdapat minimal 4 cara dan model finishing untuk pensil. Ada prose cat biasa untuk pensil dengan motif sederhana, ada model seperti stiker (sudah ada gambar tercetak) yang direkatkan dengan cara 'heating', ada model seperti perekatan glitter, dan terdapat juga cara cat dengan sistem perendaman.
Semua proses tersebut tergantung jenis gambar dan permukaan yang diinginkan oleh desainer pensil.

7. Setelah finishing, pensil mulai dipotong sesuai dengan panjangnya. Dan pada saat yang sama beberapa aksesoris misalnya karet penghapus atau hiasan karakter juga dirakit.

8. Kode produksi. Dilakukan dengan mesin cetak, dan beberapa jenis pensil lainnya sudah tercantum pada bahan pakingnya. Akhir-akhir ini sangat diperlukan dan menjadi aturan ketat untuk membuat kode produksi sesuai prosedur, terutama untuk mengetahui asal-usul kayu yang digunakan.

9. Packaging. Hanya manual tanpa bantuan mesin.

Keseluruhan kunjungan benar-benar mengesankan dan sebuah pengalaman yang sangat baik untuk diketahui. Terutama mengetahui bahwa pabrik pensil juga perlu memiliki sertifikat FSC, karena sebagian besar materialnya terbuat dari kayu.

Sedang Membuat Meja Berkaki Tiga? Hati-hati dengan Test Kestabilan

Dipandang dari sudut desain dan keindahan, meja dengan 3 kaki sangatlah menarik dan tentunya akan lebih murah biaya produksinya karena jumlah kaki berkurang satu. Namun anda patut berhati-hati dalam segi teknis untuk memastikan bahwa meja tersebut akan aman dan memiliki daya tahan kekuatan yang minimal sama dengan meja normal karena jika menilik di dalam standar umum test keamanan akan cukup rumit dan resiko kegagalan lebih besar.
Tes kestabilan menjadi bagian yang paling sulit, anda harus menghitung benar-benar posisi kaki pada daun meja, terutama pada bagian paling luar.

Semua jenis meja yang diekspor ke Eropa khususnya, akan melalui sebuah tes kestabilan untuk memastikan bahwa meja tersebut tidak akan terjungkal dalam posisi tertentu dan tekanan tertentu.

Petugas yang melakukan tes tersebut akan mencari titik luar 'terlemah' daripada daun meja untuk menentukan posisi beban. Dalam hal ini untuk meja berkaki tiga, garis terluar daun meja yang terletak di antara 2 kaki meja (B1 dan B2) adalah posisi maksimal sebuah daun meja bisa menerima beban dengan baik. Di luar garis tersebut, daya tahan daun meja terhadap kestabilan tekanan menjadi lebih lemah. Semakin besar ukuran daun meja dari garis tersebut, maka semakin rendah kestabilan meja berkaki tiga. Apalagi jika tekanan yang dibebankan lebih besar. Namun menurut standar Eropa, dengan ukuran meja setinggi kira-kira 50cm, tekanan maksimal adalah 10 kg.

Dari garis terluar daun meja, petugas akan menentukan titik pusat tekanan berjarak 5cm ke arah pusat daun meja. Nah, di sinilah letak kerumitannya. Perhatikan posisi 2 kaki meja yang menyentuh lantai, apabila garis pertemuan 2 kaki tersebut lebih besar daripada garis pada daun meja (B1 - B2), maka meja akan lebih stabil. Posisi paling ideal adalah persis sama dengan titik beban (lihat panah merah pada gambar di bawah ini.


Kesimpulannya, semakin besar jarak kaki meja yang menyentuh lantai dibandingkan dengan daun meja, semakin besar pula kestabilan meja. Berikut di bawah adalah beberapa contoh meja yang memiliki perencanaan baik untuk bisa lolos tes kestabilan.


Hal ini bisa anda terapkan juga pada saat membuat kursi atau bangku berkaki tiga. Dan sebenarnya tes pada kursi atau bangku akan jauh lebih sulit dibandingkan pada meja.

Mengapa Bambu Belum Bisa Menggantikan Kayu

Sejak dulu material kayu telah diketahui menjadi bahan baku utama pembuatan furniture. Dengan karakter seratnya yang memberikan kesan hangat dan permukaan yang halus, kayu menjadi pilihan utama dan klasik. Kemudian bambu juga diperkenalkan sebagai bahan alternatif furniture, mulai dengan sofa set lengkap dengan mejanya dan beberapa produk lain seperti rak buku, meja teras dan kursi santai.

Bentuk asli material bambu yang bulat dan penampang 'pipa' membuat keterbatasan para tukang dalam hal variasi bentuk dan jenis perabot. Akan tetap dengan teknis yang lebih mutakhir, sekarang bambu telah bisa diolah dengan cara yang mirip dengan kayu. Anda sekarang bisa melihat bambu dalam bentuk laminasi untuk dijadikan top table, kaki meja yang lebih besar atau lantai parket.

Hampir keseluruhan proses penglahan bambu mirip dengan proses mesin pada kayu, hanya saja ketebalan laminasi yang lebih terbatas pada bambu. Gambar foto di bawah adalah sebuah contoh produk meja yang dibuat dari bambu.


Walaupun secara teknis bambu bisa melalui proses pengerjaan seperti kayu. ada beberapa detail kayu yang tidak dimiliki oleh bambu. Berikut ini beberapa perbedaan tersebut:

1. Arah pemotongan
Bambu harus dipotong searah dengan seratnya atau anda akan mendapatkan ujung yang kasar. Tidak seperti kayu, kita bisa memotongnya hampir ke semua arah dan berbagai jenis garis (lurus atau lengkung)

2. Keterbatasan Ukuran
Apapun jenis bambunya, anda tidak akan bisa menemukan bahan bambu selebar kayu, misalnya jika anda ingin membuat dudukan bangku. Dan ketebalannya pun terbatas. Terutama jika anda ingin membuat vinir dari bambu, ketebalan minimal adalah 2mm. Bandingkan dengan vinir kayu yang bisa sangat tipis hingga 0,3mm!

3. Nilai Artistik
Kayu memiliki nilai artistik yang indah dengan adanya struktur serat kayu sesuai arah pemotongan dan pembelahannya. Sedangkan bambu hanya memiliki arah seart lurus tanpa adanya kombinasi warna atau ketebalan seratnya.

Jadi, masihkan bambu menjadi bahan yang baik untuk furniture? Sebagai jawabannya tentu saja masih, tapi kita harus memaksimalkan desain dan posisinya di dalam komponen. Karena dalam hal tertentu bambu memiliki juga kelebihan dari kayu.