Rumus Menghitung Volume Log Kayu, Mana Yang Paling Benar?


Menghitung volume kayu bulat (log) seringkali menjadi polemik dan perdebatan kecil untuk memutuskan rumus mana yang benar. Sebenarnya cukup sederhana dan mudah tapi pada prakteknya lumayan rumit karena bentuk log yang tidak 100% silindris seperti pipa. Kalaupun penampang log yang sempurna berbentuk bundar, diameter pada sisi ujung lainnya bisa berukuran lebih kecil/besar.

Belum lagi jika bentuk penampang log cenderung seperti bulat telur (elips) atau bahkan tidak beraturan mirip bentuk bintang.
Pada dasarnya tidak ada rumus mana yang paling benar. Yang penting justru rumus mana yang lebih cocok digunakan untuk kondisi log atau jenis kayu yang berbeda.

Merujuk pada bentuk log yang seperti tabung, maka rumus utama untuk mengukur volumenya adalah:

V = π x r² x L
atau
V = ¼ π x D² x L

Keterangan:
V = Volume
π = Phi, konstanta (22/7 atau 3,14)
r = radius atau jari-jari (cm)
D = Diameter (cm)
L = Panjang (mtr)


Berikut ini beberapa metode perhitungan yang bisa anda jadikan pedoman.

Brereton
Rumus Brereton fokus pada ukuran diameter log, pengukuran diameter rata-rata (D) harus dilakukan 2 ukuran tegak lurus (S dan L) di bawah kulit kayu pada setiap ujung kayu yang tegak lurus satu sama lain (di kedua ujung log) dan diameter akhir yang dicatat harus rata-rata dari dua pengukuran dalam sentimeter.
Panjang log harus diukur sepanjang garis lurus yang sejajar dengan sumbu tengah kayu bulat dan harus dibulatkan ke angka terdekat yang lebih rendah.

V = 0,7854 x D² x L ÷ 10.000

Keterangan:
D = Diameter (cm)
ØS = Diameter pendek (cm)
ØL = Diameter panjang (cm)

Angka 0,7854 berasal dari 3,14 (phi) dibagi 4 karena dari radius diganti menjadi diameter.



Smalian
Rumus Smalian cenderung pada luas penampang, dengan menghitung luas rata-rata kedua ujung batang kayu dengan panjang log. Pertama harus dihitung dahulu luas penampang log dari kedua ujung, kemudian hasil perhitungannya dijumlahkan, dan dibagi 2. Baru kemudian dikalikan panjang log.

V = (Luas A + Luas B)/2 x L ÷ 10.000




Japanese Agriculture Standard (JAS)
Kementrian Pertanian dan Kehutanan jepang lain lagi cara perhitungannya. Panjang log diukur dalam meter (hingga sepersepuluh meter), dan dibulatkan ke bawah. Misalnya ukuran panjang log 235 sentimeter, maka hanya akan dihitung 2,3 meter.
Diameter log diukur hanya pada bagian diameter paling kecil (S = short diameter). tapi apabila ditemukan perbedaan ukuran antara ØS dengan ØL mencapai 6 cm dan kelipatannya, maka akan ditambahkan 2 cm pada ukuran diameter pendek.

V = 0,7854 x ØS² x L ÷ 10.000


Huber
Rumus Huber menggunakan pendekatan yang sedikit berbeda dengan rumus Smalian yang memakai luas penampang log untuk perhitungan. Rumus Huber lebih memperhitungkan ukuran diameter terkecil dan diameter terbesar pada ujung log lainnya dengan cara menjumlahkan kedua ukuran lalu dibagi 2. Baru kemudian dikalikan dengan panjang log.
Huber juga bisa menggunakan diameter rata-rata pada bagian tengah log.

V = (Ø kecil + Ø panjang)/2 x L ÷ 10.000


Praktek perhitungan
Mari kita bandingkan hasil pengukuran beberapa rumus di atas dengan menggunakan ilustrasi ukuran log seperti sketsa di bawah ini.


Rumus Brereton:
D rata-rata = (28 + 32 + 34 + 40cm)/4 = 33,5 cm
L = 4,2 meter
V = 0,7854 x (33,5 x 33,5) x 4,25 ÷ 10.000 = 0,3746 m2

Rumus Smalian:
Diameter rata-rata A = (28 + 32) ÷ 2 = 30 cm
Diameter rata-rata B = (40 + 34) ÷ 2 = 37 cm
Luas A = 0,7854 x (30cm)² ÷ 10.000 = 0,0706 m2
Luas B = 0,7854 x (37cm)² ÷ 10.000 = 0,1075 m2
Luas rata-rata = (0,0706 + 0,1075) ÷ 2 = 0,08905 m2
Volume = 0,08905 x 4,25 m = 0,3784 m3

Rumus JAS:
ØS = 28 + 4 cm (karena perbedaan 12 cm dibanding ØL) = 32 cm
V = 0,7854 x (32 x 32) x 4,2 ÷ 10.000 = 0,3377 m3

Rumus Huber:
D = (28 + 40)/2 = 34 cm
V = 0,7854 x (34 x 34) x 4,25 ÷ 10.000 = 0,3858 m3

Jika kita urutkan hasil di atas, rumus Huber menghasilkan volume paling tinggi dan rumus JAS paling rendah. Kita tidak bisa menyimpulkan rumus mana yang paling benar atau rumus mana yang salah. Semua rumus tersebut benar aplikasinya berdasarkan perhitungan dasar untuk volume bentuk silinder.
Oleh karena itulah kita musti bisa menggunakan setiap perbedaan rumus untuk jenis aplikasi yang tepat.

Metode perhitungan dari JAS menunjukkan hasil paling kecil, tapi perhitungan tersebut sangat tepat untuk perhitungan kebutuhan bahan baku misalnya. Dengan volume kecil, secara tidak langsung sudah memperhitungkan % limbah atau cacat log yang mungkin tidak bisa dipakai untuk produksi.
Atau bisa lebih tepat digunakan untuk menghitung log dari kayu jenis lunak, misalnya Albasia, karena besarnya % penyusutan kayu.

Hasil perhitungan dengan rumus Huber lebih dekat ke volume log yang sebenarnya, ini sangat tepat jika penggunaan log untuk produksi vinir atau papan buatan lainnya yang bahan bakunya hampir 100% dari bagian log.
Atau juga untuk kalkulasi perhitungan volume log di dalam kontainer. Biasanya jika log dalam jumlah kecil untuk pengiriman menggunakan kontainer.

Menurut kami rumus Brereton lebih praktis dan serbaguna untuk berbagai kepentingan, baik dalam industri perdagangan log, persiapan pembahanan produksi di pabrik, atau untuk industri yang menyediakan jasa penggergajian sawmill.

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama