Klasifikasi Cacat Kualitas: Minor, Major, dan Critical

Di dalam proses Final Quality Control (FQC), salah satu tanggung jawab seorang Quality Controller (QC) atau inspektor adalah untuk menentukan apakah kualitas produk dapat diterima atau tidak setelah inspeksi. Dan menentukan apakah produk diijinkan untuk dikirim ke pembeli atau tidak, baik untuk pasar domestik ataupun pasar internasional/ekspor.

Selama proses inspeksi meja makan sebelum pengiriman misalnya, inspektor mengambil beberapa sampel meja dan menemukan ukuran meja panjang 121 cm dan lebar 80 cm. Sedangkan menurut dokumen spesifikasinya, meja tersebut seharusnya berukuran panjang 120 cm dan panjang 80 cm.

Pertanyaan yang muncul apakah meja tersebut bisa diterima? Apakah produk tersebut bisa dikirim?

Baca juga: Yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Menjalankan Quality Control


Jawabannya tergantung pada beberapa situasi, apakah ada beberapa cacat atau perbedaan lainnya yang bisa membantu anda untuk membuat keputusan? Berapa ukuran atau jumlah produk yang memiliki cacat kualitas? Adakah toleransi atau batas yang bisa diterima? Atau di mana posisi cacat tersebut berada?


Inspeksi produk umumnya dilakukan berdasarkan pengambilan sampel AQL (Acceptable Quality Level) atau tingkat kualitas yang dapat diterima yang digunakan untuk menentukan berapa banyak bagian yang harus diperiksa dan berapa banyak cacat yang akan memicu hasil inspeksi yang gagal atau FAILED INSPECTION.

AQL merupakan metode statistik dengan pengambilan sampel secara acak, dan untuk hal tersebut terdapat 3 klasifikasi cacat kualitas yaitu Minor, Major, dan Critical. Dengan adanya beberapa klasifikasi cacat kualitas akan membantu mempercepat dan memperjelas laporan inspeksi furnitur.

Minor
Cacat kualitas yang tidak mengurangi fungsi produk atau mempengaruhi daya jual barang walaupun mungkin tidak diinginkan oleh konsumen, dan memiliki sedikit pengaruh pada efektivitas atau pengoperasian produk.

Contoh :
- Warna kayu yang tidak seragam
- Bercak hitam atau serat kayu kontras karena jamur
- Dempul atau lubang kayu yang diperbaiki terlihat jelas di permukaan kayu


Photo: Terdapat jamur dan dempul yang jelas pada permukaan kayu termasuk cacat minor

Major
Cacat kualitas yang akan mempengaruhi daya jual produk atau bahkan fungsi produk yang pada akhirnya mengakibatkan konsumen komplen atau batal membeli atau bahkan mengembalikan produk dari sumber tempat membeli untuk penggantian atau pengembalian uang.

Contoh:
- Meja makan goyang atau tidak stabil karena salah satu kakinya tidak sama panjang
- Ada sambungan kayu yang lepas atau retak
- Pintu lemari tidak bisa ditutup dengan sempurna


Critical
Cacat kualitas yang bisa mengakibatkan kondisi berbahaya dan tidak aman bagi individu yang menggunakan produk. Atau kondisi lain yang bisa membahayakan keselamatan pengguna atau bahkan kematian. Jika terdapat cacat kritis mengandung satu atau lebih, sudah cukup untuk menentukan bahwa produk tidak layak untuk dikirim kepada konsumen.
Contoh:
- Terdapat paku tajam pada permukaan kayu sehingga bisa melukai jari tangan pengguna tanpa sengaja
- Kursi makan yang mudah terjungkal saat diduduki
- Ukuran komponen produk mainan anak-anak yang terlalu kecil sehingga bisa menimbulkan bahaya tersedak


Photo: Meja kecil yang berpotensi mudah terjungkal karena posisi kaki kurang tepat

Cacat kualitas Critical sangatlah penting dan sebaiknya bisa dideteksi sebelum pengiriman barang karena apabila terlambat, atau apabila cacat kualitas tersebut ditemukan saat produk sudah berada di tangan konsumen, maka biaya dan tenaga yang dibutuhkan akan jauh lebih besar.
Untuk itulah mengapa terdapat beberapa produk yang ditarik kembali dari konsumen atau recalls agar tidak menimbulkan bahaya yang lebih luas.

Agar proses inspeksi dan penentuan hasilnya bisa lebih akurat, sebaiknya dipersiapkan dahulu daftar cacat kualitas sesuai klasifikasinya untuk jenis produk tertentu. Dalam arti bahwa cacat kualitas yang bersifat Major pada sebuah kursi makan belum tentu sama dibandingkan dengan cacat pada lemari pakaian.

Tentang KAYU

Karena Kayu Lebih Ramah Lingkungan.

Post a Comment

Previous Post Next Post