Performa ekspor produk kayu Vietnam masih menunjukkan tren positif. Nilai ekspor sektor ini melampaui US$17 miliar pada 2025, sementara selama semester pertama 2026 telah mencapai US$8,6 miliar, naik sekitar 4,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja tersebut didukung oleh pulihnya permintaan konsumen global serta manfaat berbagai perjanjian perdagangan bebas.
Namun mengutip dari Vietnamnews, pertumbuhan ekspor juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait pasokan bahan baku.

Lebih dari 20 tahun Vietnam berupaya untuk mengembangkan hutan berdiameter besar, tapi hasilnya masih belum sesuai dengan yang diharapkan./img: Tienphong
Meski memiliki hampir 5 juta hektare hutan tanaman, Vietnam masih menghadapi keterbatasan pasokan kayu berdiameter besar yang dibutuhkan untuk industri pengolahan bernilai tambah tinggi, seperti furniture dan kayu lapis. Hal tersebut diungkapkan para ahli saat webinar pada minggu lalu.
Saat ini, bahan baku industri berasal dari dua sumber utama, yakni kayu impor dari negara-negara dengan tata kelola kehutanan yang baik seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta kayu domestik yang berasal dari hutan produksi dan perkebunan karet.
Kebutuhan bahan baku berbeda-beda di setiap sektor industri. Produsen furniture membutuhkan kayu berdiameter besar, sedangkan industri kayu lapis memanfaatkan kayu berukuran sedang. Sementara itu, industri wood pellet dan woodchip lebih banyak menggunakan kayu berdiameter kecil serta limbah hasil penebangan.
Perbedaan kebutuhan tersebut menyebabkan persaingan mendapatkan pasokan kayu akasia dan eucalyptus di dalam negeri semakin tinggi.
Industri dan Pasokan Bahan Baku Tidak Seimbang
Di wilayah Vietnam bagian utara, kondisi pasokan semakin tertekan akibat bencana alam yang merusak area hutan tanaman. Dampaknya, harga kayu meningkat dan produsen kayu lapis kesulitan bersaing memperoleh bahan baku dengan industri woodchip.
Selain itu, investasi yang belum terencana dengan baik turut memperparah situasi. Di sejumlah daerah, pembangunan pabrik pelet kayu berlangsung lebih cepat dibandingkan ketersediaan bahan baku, sehingga kapasitas industri melebihi pasokan kayu yang tersedia.
Wakil Ketua Asosiasi Kayu dan Produk Hutan Vietnam, Phùng Quốc Mẫn, menilai peningkatan ekspor belum tentu mencerminkan pembangunan industri yang berkelanjutan. Menurutnya, lemahnya keterkaitan antara kawasan hutan sebagai pemasok bahan baku dengan sektor pengolahan masih menjadi tantangan utama.
Hutan Kayu Berdiameter Besar Dinilai Lebih Menguntungkan
Direktur Program Kebijakan Kehutanan, Perdagangan, dan Keuangan dari Forest Trends, Tô Xuân Phúc, mengatakan pengembangan kawasan hutan bahan baku perlu dilakukan secara nasional dan tidak hanya difokuskan di kawasan tertentu.
Vietnam memiliki sekitar 10,1 juta hektar hutan alami serta 4,9 juta hektar hutan tanaman, dengan sekitar 4,1 juta hektar di antaranya merupakan hutan produksi. Hingga kini, sekitar 880 ribu hektar telah memperoleh sertifikasi pengelolaan hutan berkelanjutan melalui skema FSC maupun PEFC.
Setiap tahun, industri furniture, kayu lapis & papan buatan, pelet kayu, dan woodchip membutuhkan sekitar 59 juta meter kubik bahan baku kayu.
Meski upaya mengembangkan hutan berdiameter besar telah dilakukan lebih dari dua dekade, hasilnya dinilai belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah karena petani masih lebih memilih menebang pohon muda agar memberikan keuntungan dalam waktu yang lebih singkat.
Padahal, menurut pelaku industri, memperpanjang masa tanam hingga 10–12 tahun untuk menghasilkan kayu berdiameter besar dapat memberikan keuntungan sekitar 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan panen dalam 4-5 tahun.
Potensi Pasar Karbon Jadi Insentif Baru
Direktur Vietnam Forest Certification, Vũ Tấn Phương, menilai pasar karbon dapat menjadi sumber pendanaan tambahan untuk mendorong pengembangan hutan berdiameter besar sekaligus meningkatkan kualitas bahan baku industri.
Namun, sebagian besar pemilik hutan di Vietnam merupakan petani skala kecil yang memiliki keterbatasan modal maupun kemampuan teknis. Karena itu, diperlukan insentif yang lebih menarik agar mereka bersedia mengubah pola usaha dari panen jangka pendek menuju pengelolaan hutan jangka panjang yang juga berpotensi menghasilkan pendapatan dari perdagangan kredit karbon.
Sebagai langkah memperkuat rantai pasok, Asosiasi Industri Kerajinan dan Kayu Kota Ho Chi Minh atau HAWA (Handicraft & Wood Industry Association of HCMC) telah melakukan survei lapangan di Cần Thơ dan Cà Mau serta berencana memperluas program ke Tây Ninh dan An Giang guna membangun model kemitraan antara kawasan bahan baku lokal dan pusat industri pengolahan kayu.
---
Namun mengutip dari Vietnamnews, pertumbuhan ekspor juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait pasokan bahan baku.

Lebih dari 20 tahun Vietnam berupaya untuk mengembangkan hutan berdiameter besar, tapi hasilnya masih belum sesuai dengan yang diharapkan./img: Tienphong
Meski memiliki hampir 5 juta hektare hutan tanaman, Vietnam masih menghadapi keterbatasan pasokan kayu berdiameter besar yang dibutuhkan untuk industri pengolahan bernilai tambah tinggi, seperti furniture dan kayu lapis. Hal tersebut diungkapkan para ahli saat webinar pada minggu lalu.
Saat ini, bahan baku industri berasal dari dua sumber utama, yakni kayu impor dari negara-negara dengan tata kelola kehutanan yang baik seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta kayu domestik yang berasal dari hutan produksi dan perkebunan karet.
Kebutuhan bahan baku berbeda-beda di setiap sektor industri. Produsen furniture membutuhkan kayu berdiameter besar, sedangkan industri kayu lapis memanfaatkan kayu berukuran sedang. Sementara itu, industri wood pellet dan woodchip lebih banyak menggunakan kayu berdiameter kecil serta limbah hasil penebangan.
Perbedaan kebutuhan tersebut menyebabkan persaingan mendapatkan pasokan kayu akasia dan eucalyptus di dalam negeri semakin tinggi.
Industri dan Pasokan Bahan Baku Tidak Seimbang
Di wilayah Vietnam bagian utara, kondisi pasokan semakin tertekan akibat bencana alam yang merusak area hutan tanaman. Dampaknya, harga kayu meningkat dan produsen kayu lapis kesulitan bersaing memperoleh bahan baku dengan industri woodchip.
Selain itu, investasi yang belum terencana dengan baik turut memperparah situasi. Di sejumlah daerah, pembangunan pabrik pelet kayu berlangsung lebih cepat dibandingkan ketersediaan bahan baku, sehingga kapasitas industri melebihi pasokan kayu yang tersedia.
Wakil Ketua Asosiasi Kayu dan Produk Hutan Vietnam, Phùng Quốc Mẫn, menilai peningkatan ekspor belum tentu mencerminkan pembangunan industri yang berkelanjutan. Menurutnya, lemahnya keterkaitan antara kawasan hutan sebagai pemasok bahan baku dengan sektor pengolahan masih menjadi tantangan utama.
Hutan Kayu Berdiameter Besar Dinilai Lebih Menguntungkan
Direktur Program Kebijakan Kehutanan, Perdagangan, dan Keuangan dari Forest Trends, Tô Xuân Phúc, mengatakan pengembangan kawasan hutan bahan baku perlu dilakukan secara nasional dan tidak hanya difokuskan di kawasan tertentu.
Vietnam memiliki sekitar 10,1 juta hektar hutan alami serta 4,9 juta hektar hutan tanaman, dengan sekitar 4,1 juta hektar di antaranya merupakan hutan produksi. Hingga kini, sekitar 880 ribu hektar telah memperoleh sertifikasi pengelolaan hutan berkelanjutan melalui skema FSC maupun PEFC.
Setiap tahun, industri furniture, kayu lapis & papan buatan, pelet kayu, dan woodchip membutuhkan sekitar 59 juta meter kubik bahan baku kayu.
Meski upaya mengembangkan hutan berdiameter besar telah dilakukan lebih dari dua dekade, hasilnya dinilai belum optimal. Salah satu penyebabnya adalah karena petani masih lebih memilih menebang pohon muda agar memberikan keuntungan dalam waktu yang lebih singkat.
Padahal, menurut pelaku industri, memperpanjang masa tanam hingga 10–12 tahun untuk menghasilkan kayu berdiameter besar dapat memberikan keuntungan sekitar 2,5 kali lebih tinggi dibandingkan panen dalam 4-5 tahun.
Potensi Pasar Karbon Jadi Insentif Baru
Direktur Vietnam Forest Certification, Vũ Tấn Phương, menilai pasar karbon dapat menjadi sumber pendanaan tambahan untuk mendorong pengembangan hutan berdiameter besar sekaligus meningkatkan kualitas bahan baku industri.
Namun, sebagian besar pemilik hutan di Vietnam merupakan petani skala kecil yang memiliki keterbatasan modal maupun kemampuan teknis. Karena itu, diperlukan insentif yang lebih menarik agar mereka bersedia mengubah pola usaha dari panen jangka pendek menuju pengelolaan hutan jangka panjang yang juga berpotensi menghasilkan pendapatan dari perdagangan kredit karbon.
Sebagai langkah memperkuat rantai pasok, Asosiasi Industri Kerajinan dan Kayu Kota Ho Chi Minh atau HAWA (Handicraft & Wood Industry Association of HCMC) telah melakukan survei lapangan di Cần Thơ dan Cà Mau serta berencana memperluas program ke Tây Ninh dan An Giang guna membangun model kemitraan antara kawasan bahan baku lokal dan pusat industri pengolahan kayu.
---
