Dilansir dari Woodshop News, harga kayu jati yang melonjak tinggi hingga menyentuh angka $80 (sekitar Rp1,2 juta) per board foot kini membuat banyak konsumen berpikir dua kali. Meski dikenal sebagai salah satu kayu keras (hardwood) paling diminati di dunia, nilainya yang sangat mahal mendorong pembeli untuk beralih ke material alternatif seperti kayu mahoni, sapele, dan iroko.

Opsi pengganti tersebut dipasarkan jauh lebih terjangkau, yakni di kisaran $18 hingga $20 per board foot. Jenis kayu tersebut semakin populer digunakan pada proyek perkapalan serta area yang memiliki kelembaban tinggi. Akibatnya, volume penjualan bahan kayu jati di tingkat pemasok kini cenderung stagnan dan hanya dipesan dalam jumlah terbatas.
Sejumlah pemasok kayu mengkonfirmasi bahwa kayu jati memang masih memegang reputasi tinggi untuk proyek-proyek kelas atas. Namun, perbedaan harganya yang mencapai 6 hingga 8 kali lipat membuat kayu alternatif seperti kayu sapele dan kayu iroko memiiki daya pikat jauh lebih baik. Kedua jenis kayu ini dinilai mampu memberikan daya tahan yang mirip jati pada kondisi lingkungan yang sama.
Dennis Armstrong dari Armstrong Millworks (Michigan) mengungkapkan bahwa penjualan jati kini sangat tergantung pada anggaran konsumen. Menurutnya, jika jenis kayu lain seperti misalnya mahoni telah dianggap cukup memadai untuk sebuah proyek, maka pelanggan kebanyakan memilih mahoni ketimbang jati. Selain masalah harga, faktor kelangkaan, peningkatan biaya, hingga regulasi ketat mengenai legalitas asal-usul kayu (chain of custody) turut memperberat daya saing pasar kayu jati.
Hal serupa disampaikan oleh Josh Nozick dari Freestate Timbers (Maryland). Ia menyebutkan bahwa sekitar 90% pelanggan yang datang mencari kayu jati akhirnya pulang dengan membawa kayu sapele, mahoni, atau iroko.
"Kayu iroko dari Afrika bagian selatan sering disebut sebagai African teak. Meskipun bukan dari spesies yang sama, warna keemasannya mirip dengan jati dan memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap pembusukan," jelas Nozick.
Di sisi lain, Gerard Romeo dari Exotic Woods USA (New York) mencatat adanya pergeseran tren dalam tiga hingga lima tahun terakhir. Konsumen saat ini semakin teredukasi mengenai perbedaan antara jati alami (slow-growth) dan jati perkebunan (plantation teak). Jati perkebunan menawarkan harga yang sedikit lebih ramah di kantong, meski persediaannya di pasar kerap tidak menentu.
Meski warna kayu pengganti cenderung lebih kemerahan dibandingkan warna cokelat khas jati, tingkat keawetannya untuk penggunaan luar ruangan (outdoor) dianggap cukup pantas dengan selisih harga yang ditawarkan. Meski demikian, untuk proyek restorasi kapal tua atau furniture antik, kayu jati asli tetap belum sepenuhnya tergantikan.
---

Opsi pengganti tersebut dipasarkan jauh lebih terjangkau, yakni di kisaran $18 hingga $20 per board foot. Jenis kayu tersebut semakin populer digunakan pada proyek perkapalan serta area yang memiliki kelembaban tinggi. Akibatnya, volume penjualan bahan kayu jati di tingkat pemasok kini cenderung stagnan dan hanya dipesan dalam jumlah terbatas.
Sejumlah pemasok kayu mengkonfirmasi bahwa kayu jati memang masih memegang reputasi tinggi untuk proyek-proyek kelas atas. Namun, perbedaan harganya yang mencapai 6 hingga 8 kali lipat membuat kayu alternatif seperti kayu sapele dan kayu iroko memiiki daya pikat jauh lebih baik. Kedua jenis kayu ini dinilai mampu memberikan daya tahan yang mirip jati pada kondisi lingkungan yang sama.
Dennis Armstrong dari Armstrong Millworks (Michigan) mengungkapkan bahwa penjualan jati kini sangat tergantung pada anggaran konsumen. Menurutnya, jika jenis kayu lain seperti misalnya mahoni telah dianggap cukup memadai untuk sebuah proyek, maka pelanggan kebanyakan memilih mahoni ketimbang jati. Selain masalah harga, faktor kelangkaan, peningkatan biaya, hingga regulasi ketat mengenai legalitas asal-usul kayu (chain of custody) turut memperberat daya saing pasar kayu jati.
Rumus untuk menghitung board foot adalah: Lebar x Tebal x Panjang (inci)/144
Hal serupa disampaikan oleh Josh Nozick dari Freestate Timbers (Maryland). Ia menyebutkan bahwa sekitar 90% pelanggan yang datang mencari kayu jati akhirnya pulang dengan membawa kayu sapele, mahoni, atau iroko.
"Kayu iroko dari Afrika bagian selatan sering disebut sebagai African teak. Meskipun bukan dari spesies yang sama, warna keemasannya mirip dengan jati dan memiliki ketahanan yang sangat baik terhadap pembusukan," jelas Nozick.
Di sisi lain, Gerard Romeo dari Exotic Woods USA (New York) mencatat adanya pergeseran tren dalam tiga hingga lima tahun terakhir. Konsumen saat ini semakin teredukasi mengenai perbedaan antara jati alami (slow-growth) dan jati perkebunan (plantation teak). Jati perkebunan menawarkan harga yang sedikit lebih ramah di kantong, meski persediaannya di pasar kerap tidak menentu.
Meski warna kayu pengganti cenderung lebih kemerahan dibandingkan warna cokelat khas jati, tingkat keawetannya untuk penggunaan luar ruangan (outdoor) dianggap cukup pantas dengan selisih harga yang ditawarkan. Meski demikian, untuk proyek restorasi kapal tua atau furniture antik, kayu jati asli tetap belum sepenuhnya tergantikan.
---
