Lonjakan Permintaan Pelet Kayu Jepang Ancam Deforestasi Hutan Indonesia

Lonjakan produksi pelet dan serpihan kayu (wood pellet & chips) di Indonesia memicu gelombang deforestasi baru. Menurut analisis data satelit terbaru dari sejumlah LSM lingkungan, ekspansi industri biomassa kini menjadi salah satu pemacu utama kerusakan hutan alam di Tanah Air.

briket kayu
Mayoritas produk biomassa Indonesia ditujukan untuk pasar ekspor

Meskipun pembangkit listrik berbasis biomassa digadang-gadang sebagai energi bersih di tingkat global, para aktivis dan ilmuwan mengingatkan bahwa praktik ini justru memperparah krisis iklim dan merusak ekosistem vital.


Industri Biomassa Jadi Pendorong Baru Deforestasi

Penggunaan bioenergi global melonjak lebih dari 55% antara tahun 2015 dan 2024 (IEA). Di Jepang, biomassa menyumbang porsi energi yang terus meningkat. Namun, tingginya permintaan pasar internasional yang tidak diimbangi dengan regulasi ketat mengancam kelestarian hutan hujan tropis.

Timer Manurung, Direktur Auriga Nusantara, menyatakan bahwa mayoritas produk biomassa Indonesia saat ini ditujukan untuk pasar ekspor. Lonjakan permintaan luar negeri ini mendorong ekspansi masif di dalam negeri, di mana setidaknya 45 izin konsesi biomassa telah diterbitkan dengan cakupan area mencapai lebih dari 750.000 hektar hutan alam.

Dampak dari pembukaan lahan skala besar ini mengancam keanekaragaman hayati dan kehidupan sosial masyarakat lokal. Deforestasi yang terjadi berisiko merusak habitat krusial bagi spesies langka seperti tarsius dan anoa, sekaligus menghimpit wilayah hidup komunitas adat, termasuk masyarakat terpencil Polahi yang sangat bergantung pada kelestarian hutan.

Di sisi lain, klaim biomassa sebagai energi bersih menuai kritik tajam. Pemanfaatan pelet kayu untuk skema co-firing di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dinilai sekadar taktik untuk memperpanjang masa operasi energi fosil. Terlebih lagi, proses pembakaran biomassa berbasis kayu secara realitas dapat melepaskan emisi karbon yang bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan pembakaran batu bara.


Permintaan Pelet Kayu Jepang Melonjak Tajam

Sebagai negara yang miskin sumber daya fosil, Jepang terus berburu pasokan energi alternatif. Impor pelet kayu Negeri Sakura mencapai rekor 8,64 juta ton pada tahun 2025 (naik 35% dari 2024).

Indikator Pasar Statistik Impor Jepang
Total Impor Pelet Kayu (2025) 8,64 Juta Ton
Pertumbuhan Impor dari Indonesia Melonjak >500% (66.460 ton pada 2023 menjadi 402.310 ton pada 2025)
Waktu Pembakaran Proyek lama tetap menerima subsidi pemerintah Jepang hingga 20 tahun

Meskipun Korea Selatan sebelumnya merupakan pengimpor utama pelet kayu Indonesia, negara tersebut telah memangkas subsidinya akibat kritik deforestasi. Posisi tersebut kini sepenuhnya diambil alih oleh Jepang.

Para peneliti lingkungan di Jepang menyoroti lemahnya pengawasan rantai pasok (due diligence). Celah hukum ini memungkinkan pelet kayu hasil pembabatan hutan alam tetap masuk ke pasar Jepang selama bertahun-tahun ke depan.

Kementerian terkait di Indonesia dan Jepang belum memberikan komentar mengenai keterkaitan antara ekspor biomassa dan laju deforestasi ini.


Laporan mengenai dampak dinamika ekspor pelet kayu Indonesia dan ancaman deforestasi ini disadur dan disarikan berdasarkan ulasan dari media online asing (nongnghiepmoitruong).

tentangkayu

Mari Belajar dan Berkembang Bersama Kami

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama