India Punya Hutan Jati Terluas di Dunia Tapi Masih Harus Impor

pabrik di India
Pabrik furniture jati di India/img: CSE

India menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan kayu jati domestik yang terus meningkat. Meski memiliki sekitar 44% dari total area perkebunan jati dunia, negara tersebut masih harus mengimpor sekitar 60% dari kebutuhan tahunannya yang mencapai lebih dari 2 juta meter kubik.

Meningkatnya urbanisasi dan pembangunan infrastruktur menjadi faktor utama yang mendorong lonjakan permintaan kayu jati. Material ini dikenal sebagai salah satu jenis kayu keras terbaik karena daya tahannya yang tinggi serta ketahanannya terhadap air dan pembusukan. Di India, kayu jati banyak digunakan untuk konstruksi rumah, pembuatan furniture, kabinet, hingga industri perkapalan.

Saat ini, produksi jati India hanya berkisar 300.000 meter kubik per tahun, jauh di bawah kebutuhan pasar. Kondisi tersebut memaksa negara itu mengandalkan impor dengan biaya yang semakin mahal. Ironisnya, India pernah menjadi salah satu produsen jati terkemuka di dunia.


Kekhawatiran Ekologis Meningkat

Para ahli lingkungan memperingatkan bahwa kesenjangan antara permintaan dan pasokan berpotensi memicu dampak negatif yang serius. Aktivitas penebangan liar dan penyelundupan kayu lintas batas disebut semakin marak akibat tingginya nilai ekonomi kayu jati.

Selain persoalan pasokan, para peneliti juga mengoreksi sejarah perkembangan budidaya jati di India. Selama bertahun-tahun, banyak kalangan meyakini bahwa pohon jati pertama kali ditanam oleh pemerintah kolonial Inggris di Nilambur, Kerala, pada tahun 1844.

Namun, sejumlah kajian sejarah menunjukkan bahwa budidaya jati telah dilakukan jauh sebelumnya. Penanaman dan pemanfaatan jati dalam skala besar disebut telah dilakukan pada tahun 1680 oleh Laksamana Maratha, Kanhoji Angre, di wilayah Ratnagiri, Maharashtra. Upaya tersebut bertujuan mendukung pembangunan kapal dan memperkuat armada laut lokal.


Kebijakan dan Produksi Perlu Seimbang

Krisis pasokan jati saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh tingginya permintaan. Sejumlah kebijakan pembatasan penebangan di hutan alami, regulasi produksi di lahan milik pribadi, serta masa tumbuh jati yang panjang turut membatasi peningkatan produksi.

Selain itu, praktik perkebunan monokultur dalam jangka panjang dinilai dapat menurunkan kesuburan tanah sehingga berdampak pada produktivitas. Karena itu, pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu bekerja sama merumuskan strategi yang mampu menjaga kelestarian hutan sekaligus meningkatkan produksi jati secara berkelanjutan.

Koreksi terhadap sejarah budidaya jati di India juga dinilai dapat menjadi momentum untuk membangkitkan kembali sektor kehutanan nasional. Dengan kebijakan yang tepat, India berpeluang memperkuat posisinya sebagai salah satu produsen jati terbesar di dunia tanpa mengabaikan aspek lingkungan.

The New Indian Express


tentangkayu

Mari Belajar dan Berkembang Bersama Kami

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama