5 Alasan Kayu Merbau Dipakai untuk Decking

Untuk keperluan area di luar ruangan (outdoor) seperti taman, tepi kolam renang, dan balkoni sering kali dibuat lantai kayu untuk menciptakan kesan mewah, hangat dan alami. Di antara berbagai pilihan material, kayu Merbau dikenal secara internasional sebagai material decking.

merbau decking
Kayu Merbau banyak diaplikasikan untuk decking luar ruangan

Indonesia merupakan salah satu negara eksportir terbesar untuk produk decking Merbau berkualitas tinggi ke pasar global. Di Uni Eropa (UE), decking kayu Merbau dari Indonesia sangat diminati untuk membangun area komersial premium, resor mewah, dan fasilitas publik pinggir pantai karena ketahanannya terhadap iklim basah dan regulasi kelestarian SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kelestarian) yang ketat, khususnya EUDR yang akan segera diberlakukan.

Sementara itu, di Amerika Serikat (AS), arsitek lanskap sering menggunakan decking ini untuk perumahan elite di wilayah pesisir barat dan selatan yang membutuhkan material tahan cuaca panas ekstrem serta air asin.

Berikut ini 5 alasan dan fakta soal kayu Merbau menjadi pilihan utama untuk decking:

A. Warna dan Pola Serat Memikat

Kayu Merbau dihasilkan dari pohon hutan hujan tropis (rainforest) yang tumbuh subur di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Papua Nugini, dan Malaysia. Pohonnya dapat tumbuh menjulang hingga ketinggian lurus 40 meter dengan diameter batang mencapai 60 cm. Ukuran masif ini memungkinkan produksi decking yang panjang, lurus dengan serat konsisten.

Serat Merbau dianggap memiliki gradasi warna yang menarik. Saat baru dipotong, bagian kayu teras (heartwood) berwarna cokelat oranye cerah. Seiring waktu akibat paparan sinar matahari (ultraviolet), warnanya akan matang menjadi cokelat kemerahan gelap yang elegan. Warna ini sangat kontras dengan kayu gubal (sapwood) luar yang berwarna putih kekuningan.

Salah satu ciri khas unik Merbau adalah adanya pori-pori kecil yang berisi endapan sulfur berwarna kuning atau emas di sepanjang serat kayunya. Karakteristik ini membuat permukaan decking tampak berkilau alami saat terkena cahaya.


B. Kelas Awet Tinggi

Kayu Merbau termasuk salah satu jenis kayu keras tropis yang memiliki tingkat keawetan tinggi. Dalam klasifikasi kayu di Indonesia, Merbau umumnya masuk ke dalam kelas awet I–II, yang artinya kayu ini sangat tahan terhadap serangan rayap, jamur, serta pengaruh cuaca dan kelembaban. Kandungan minyak alami pada kayu merbau membantu melindungi serat kayu sehingga tidak mudah lapuk meskipun digunakan dalam jangka waktu lama.

Selain itu, kayu Merbau juga memiliki kekuatan mekanis yang baik, sehingga keunggulan tersebut membuatnya menjadi pilihan populer untuk penggunaan eksterior. Dengan perawatan yang tepat, kayu Merbau bahkan dapat bertahan 15 hingga 40 tahun tanpa mengalami kerusakan berarti, sehingga dianggap sebagai salah satu kayu premium yang bernilai tinggi di industri perkayuan.


C. Kepadatan Tinggi, Tidak Mudah Menyusut

Dengan tingkat kepadatan mencapai 850 kg/m³, kayu Merbau termasuk salah satu kayu keras paling solid. Kayu ini mempunyai stabilitas dimensi yang baik dengan tingkat perubahan bentuk yang rendah, sehingga tidak mudah menyusut, melengkung, retak, atau memuai akibat perubahan suhu dan kelembaban.

Struktur kayunya yang padat membuat serangga lebih sulit menembus dan merusak serat kayu. Selain itu, merbau juga mengandung minyak alami dan zat ekstraktif yang berfungsi sebagai perlindungan alami terhadap rayap, jamur, dan organisme perusak kayu lainnya.


D. Pengerjaan Mudah, tapi Alat Cepat Tumpul

Bagi pekerja kayu atau pabrik pengolahan kayu, Merbau disukai karena relatif mudah dikerjakan dengan alat pertukangan standar. Artinya bahwa kayu ini dapat diserut, dipotong, dan dibor dengan hasil yang rapi. Namun, karena tingkat kekerasannya yang tinggi, mata pisau gergaji, pahat atau alat bor akan lebih cepat tumpul jika dibandingkan saat mengolah kayu lunak (softwood) atau kayu keras lainnya yang memiliki kepadatan lebih rendah, misalnya Akasia atau Mahoni.

Dalam proses penyekrupan dan pemakuan, hasilnya cukup baik walaupun pada beberapa situasi sebaiknya lakukan predrill agar kayu tidak retak. Selain itu, kandungan minyak alami dan zat ekstraktif pada kayu Merbau dapat mempengaruhi daya rekat lem serta proses finishing, sehingga permukaan kayu biasanya perlu dibersihkan atau diamplas terlebih dahulu sebelum aplikasi finishing/perakitan.


E. Kandungan Tanin

Kayu merbau dikenal sebagai salah satu jenis kayu tropis yang memiliki kandungan tanin cukup tinggi dan cenderung mengalami tannin bleed (tanin berlebihan). Tanin adalah senyawa alami di dalam kayu yang akan larut dan keluar seperti getah berwarna merah kecokelatan saat kayu basah terkena air hujan atau dicuci. Sehingga jika tidak diantisipasi, tanin ini dapat menodai permukaan di bawah atau di sekitar decking, seperti lantai semen, batuan alam, atau keramik teras.

Untuk mengantisipasinya, ada yang melakukan proses 'weathering', dengan cara meletakkan papan kayu Merbau di luar ruangan selama beberapa minggu agar sisa tanin luntur secara alami oleh cuaca. Ada pula yang melakukan proses pencucian kimia dengan mencuci kayu berulang kali menggunakan produk pembersih khusus untuk mengangkat tanin dari pori-pori kayu.

Setelah zat tanin dianggap benar-benar bersih, biasanya pabrik baru akan mengaplikasikan bahan finishing.

---

Eko HIDAYAT

Profesional dalam industri kayu dan bisnis terkait furniture | Founder tentangkayu.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama