Perempuan Masih Tertinggal di Sektor Kehutanan Dunia, Eropa Paling Parah

Sektor kehutanan global ternyata masih menghadapi masalah serius, yaitu ketidakseimbangan gender cukup besar yang belum terselesaikan. Dari total sekitar 42 juta pekerja di seluruh dunia, hanya 25% perempuan.

pekerja perempuan
Pekerja perempuan sedang mengolah komponen di sebuah pabrik Vietnam

Temuan ini berasal dari studi terbaru yang dirilis oleh FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations), ILO (International Labour Organization), dan Thünen Institute of Forestry. Laporan tersebut menjadi yang pertama menyajikan data global tenaga kerja kehutanan yang dipisahkan berdasarkan gender, terutama di Eropa.

Dari data tahun 2022 menunjukkan perbedaan mencolok di Eropa, yang hanya memiliki pekerja perempuan hanya seperempat dari jumlah seluruh pekerja yang terlibat di sektor kehutanan.

Angka ini menjadikan Eropa sebagai wilayah dengan kesenjangan gender paling ekstrim, melampaui Asia, Afrika, maupun Amerika. Padahal secara umum Eropa dikenal memiliki tingkat kesetaraan gender yang relatif baik di banyak sektor. Artinya bahwa fakta ini telah jelas membuktikan bahwa sektor kehutanan memiliki dinamika berbeda, terutama karena masih didominasi pekerjaan fisik dan industri berat.

Namun anehnya, justru sebagian besar pekerjaan justru bukan di hutan. Sekitar 58% tenaga kerja berada di industri pengolahan kayu, termasuk pabrik furniture, pulp, dan kertas. Yang artinya, bahwa sektor ini sangat terkait dengan industri manufaktur.

Ini juga menjelaskan mengapa kesenjangan gender bisa tinggi—karena banyak pekerjaan berada di sektor industri yang secara historis lebih banyak diisi laki-laki.

Secara global, Asia menyumbang porsi terbesar tenaga kerja kehutanan, stabil di kisaran 1,4 persen dari total pekerjaan selama lebih dari satu dekade.

Namun, total lapangan kerja sektor ini justru menurun sekitar 3,1% antara 2011 hingga 2022. Beberapa wilayah seperti Afrika sempat naik sebelum turun kembali, sementara Amerika relatif stabil meski sempat terdampak COVID-19 pandemic.

Studi ini menggunakan model baru bernama Forest Employment (FEM), yang dikembangkan dalam kerangka Global Forest Resources Assessment. Model ini memungkinkan analisis tahunan dari 182 negara—mencakup 99% hutan dunia, dan menggabungkan berbagai faktor seperti ekonomi, demografi, hingga kondisi pasar tenaga kerja.


Lalu, Bagaimana dengan Indonesia?

Sebagai salah satu negara dengan hutan tropis terbesar di dunia, posisi Indonesia sangat strategis dalam sektor kehutanan global. Namun, tantangan yang dihadapi tidak jauh berbeda, dan pekerja perempuan di sektor kehuatanan masih minim di lapangan.

Di Indonesia, sektor kehutanan seperti penebangan dan pengelolaan hutan masih didominasi laki-laki. Mungkin karena faktor budaya, akses pendidikan, hingga persepsi pekerjaan “berat” menjadi penyebab utama rendahnya partisipasi perempuan.

Kesenjangan gender di sektor kehutanan mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam dunia kerja global, terutama di sektor berbasis sumber daya alam. Namun, kehadiran data yang lebih akurat juga membuka peluang untuk melakukan perubahan.

Upaya seperti pelatihan keterampilan bagi perempuan, peningkatan akses terhadap pekerjaan di sektor industri kayu, serta kebijakan inklusif di tingkat nasional dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi ketimpangan.


---

tentangkayu

Mari Belajar dan Berkembang Bersama Kami

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama