
Ekspor produk kayu Vietnam meningkat di tengah badai tarif
HANOI — Di tengah tantangan berat dari pasar global dan dampak perubahan iklim yang semakin terasa, industri kayu Vietnam pada 2025 tetap membuat catatan penting. Nilai ekspor produk kayu dan turunannya masih mampu melampaui US$17 miliar. Dan jika dibandingkan dengan 2024, pertumbuhan ini tergolong moderat dan cenderung datar, yang mencerminkan kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.
Berdasarkan data Bea Cukai Vietnam, ekspor kayu dan produk kayu pada Desember 2025 mencapai hampir US$1,7 miliar, sehingga total nilai ekspor sepanjang tahun berada di kisaran US$17,2 miliar. Angka ini hanya naik tipis dibandingkan 2024, menunjukkan bahwa meskipun berhasil mencetak rekor nominal, volume dan laju pertumbuhannya relatif stabil, bukan ekspansi tajam.
Amerika Serikat tetap menjadi pasar terbesar dengan total nilai ekspor mencapai sekitar US$9,46 miliar, naik tipis dibanding tahun lalu dan menyumbang kurang lebih 55% dari total ekspor industri kayu Vietnam. Negara ini juga mempertahankan posisinya sebagai pemasok furniture kayu terbesar ke pasar AS.
Ekspor ke Jepang menunjukkan kinerja yang lebih dinamis, tumbuh lebih dari 20% dan menembus US$2,1 miliar. Ini menjadi pertama kalinya ekspor kayu Vietnam ke Jepang melampaui angka US$2 miliar, menjadikan Jepang pasar terbesar kedua, melampaui Tiongkok yang berada di posisi ketiga dengan nilai hampir US$2,1 miliar.
Secara keseluruhan, tiga pasar utama — AS, Jepang, dan Tiongkok — menyumbang hampir 80% dari total ekspor kayu dan produk kayu Vietnam pada 2025. Pasar lain seperti Korea Selatan (sekitar US$709 juta), Kanada (US$288 juta), dan Inggris (US$244 juta) masih berkontribusi dalam skala yang jauh lebih kecil.
Dari sisi struktur produk, furniture kayu tetap menjadi tulang punggung industri. Produk lainnya meliputi serpihan kayu, kayu gergajian dan papan, lantai kayu, serta pelet kayu.
Ketua Asosiasi Industri Kerajinan Tangan dan Kayu di HCMC, Phùng Quốc Mẫn, menilai bahwa 2025 merupakan tahun penuh tekanan. Industri menghadapi kebijakan pajak resiprokal, penyelidikan antidumping dari AS, persiapan menghadapi EUDR, serta gangguan rantai pasok akibat bencana alam dan banjir di dalam negeri. Faktor-faktor ini menahan laju pertumbuhan dan membuat volume ekspor relatif datar dibandingkan tahun sebelumnya.
Meski demikian, industri kayu Vietnam tetap menunjukkan ketangguhan. Menurut Kementerian Pertanian dan Lingkungan di Vietnam, total ekspor produk kayu dan kehutanan mencapai sekitar US$18,5 miliar pada 2025, naik sekitar 6,6 persen dari 2024 dan menghasilkan surplus perdagangan hampir US$14,9 miliar. Tutupan hutan tetap stabil di angka 42 persen, sementara pelanggaran kehutanan dan area terdampak kebakaran hutan menurun.
Menatap 2026, sektor kehutanan menargetkan nilai ekspor sekitar US$18,5 miliar dengan fokus pada perluasan hutan kayu besar, penerapan teknologi, transformasi digital, serta diversifikasi pasar ekspor. Dengan fondasi yang relatif stabil pada 2025, industri kayu Vietnam diharapkan dapat beralih dari sekadar pertumbuhan volume menuju peningkatan nilai tambah dan keberlanjutan jangka panjang.
(VNS)