Membuat Kaki Kursi Melengkung

Untuk mengikuti desain dan ukuran ergonomis, kaki belakang kursi seringkali harus dibentuk sedemikian rupa sehingga lengkungannya terlihat lebih baik dan pas dengan sudut yang diinginkan.
Proses pembentukan kaki melengkung tersebut melewati beberapa tahap pengerjaan. Bagi anda yang berkecimpung di bidang produksi pasti sudah mengetahui proses tersebut.

Proses dimulai dari pemilihan papan lebar yang sudah dikeringkan. Ketebalan papan sebaiknya disesuaikan dengan ketebalan bagian kaki yang lurus ditambah dengan spelling untuk mesin ketam dan ampelas. Lebar papan minimal adalah jarak tegak lurus dari ujung kaki lengkung hingga bidang lengkung terbesarnya. Lebih lebar papan akan lebih baik untuk hasil pembelahan maupun penghematan bahan kayu.

S2S
Untuk hasil dan proses yang lebih baik, papan sebaiknya diketam halus pada dua sisinya yaitu sisi lebar dengan ketebalan jadi, dilebihkan 0,5mm untuk proses ampelas. Pengetaman ini akan membantu keakuratan gambar bentuk lengkung pada papan tersebut.


Gambarkan lengkungan yang anda inginkan pada permukaan papan menggunakan skala lengkung 1:1. Mal yang dipakai untuk menggambar pada papan tersebut bisa berupa kertas karton, triplek atau plastik. Apapun bahan yang digunakan sebaiknya yang memiliki sifat stabil dan tidak mudah pecah.
Triks menggambar akan bermanfaat pada proses ini untuk menghemat bahan dengan cara memaksimalkan seluruh permukaan papan agar bisa menghasilkan bentuk lengkung yang dibutuhkan. Namun kendalanya kadang akan terjadi tergantung jenis kayu yang anda gunakan. Kayu yang memiliki banyak cacat bawaan (mata kayu, kayu gubal, bluestain dan lainnya) akan memberikan sedikit kesulitan dan limbah yang berlebih.

Proses selanjutnya adalah pembelahan menggunakan gergaji pita. Arahkan mata gergaji 'DI LUAR' garis sehingga masih terdapat kelebihan lebar untuk limbah proses selanjutnya. Perhatikan pula agar pada saat menggergaji tidak memotong garis kaki lengkung yang lainnya.


Setelah satu persatu kaki terlihat bentuk lengkungnya, penghalusan sisi tebal bisa dilakukan dengan mesin Frais Samping, Copy Shapper, Multi spindle dan mesin amplas tebal. Penghalusan bisa dilakukan satu persatu atau sekaligus 4-10 batang tergantung ketebalan. Untuk hasil terbaik sebaiknya memang sekaligus akan tetapi proses ini membutuhkan mesin mutakhir yang mampu mengikat benda kerja lebih dari satu dan mampu melakukan penghalusan pada ketebalan yang berlebih.
Pada saat menggunakan mesin ini juga bisa dilakukan proses pingul pada sudut kayu. Cukup mengganti jenis pisau saja.

Hal yang perlu diperhatikan pada waktu membuat benda kerja melengkung:
1. Arah serat kayu: Pikirkan pada bagian mana komponen tersebut akan dipasang sehingga arah serat secara estetika dan kontruksi akan menjadi baik.
2. Jarak minimal garis antara untuk setiap benda kerja adalah 5mm untuk spelling penggergajian dan penghalusan.
3. Gunakan alat tulis yang baik dan tajam sehingga tidak mudah terhapus oleh tangan maupun benda lain di ruang produksi.
4. Cacat kayu, hindari dan kurangi limbah sebanyak mungkin dengan membuat garis potong yang baik.
5. Simpan mal di tempat yang aman dari benturan.

Pengawetan Kayu

Beberapa jenis kayu tertentu harus diawetkan untuk mencegah serangan serangga/organisme maupun jamur perusak kayu. Yang dimaksudkan dengan pengawetan yaitu memasukkan bahan kimia ke dalam (pori-pori) kayu sehingga menembus permukaan kayu setebal beberapa mm ke dalam daging kayu.

Pengawetan bertujuan untuk menambah umur pakai kayu lebih lama terutama kayu yang dipakai untuk bahan bangunan ataupun untuk perabot di luar ruangan.

Kayu dikategorikan ke dalam beberapa kelas awet.
1. Kelas awet I (sangat awet), misal: kayu Jati, Sonokeling
2. Kelas awet II (awet), misal: kayu Merbau, Mahoni
3. Kelas awet III (kurang awet), misal: kayu Karet, Pinus
4. Kelas awet IV (tidak awet), misal: kayu Albasia
5. Kelas awet V (sangat tidak awet)

Dengan tingkat keawetan tersebut di atas, hanya Kelas awet III, IV dan V yang perlu diawetkan. Pada keperluan tertentu, bagian kayu gubal dari kayu kelas awet I & II juga perlu diawetkan.
Kayu-kayu yang telah diawetkan akan tahan terhadap serangan serangga perusak dan jamur kayu walaupun kayu diletakkan di luar ruangan.

Bahan pengawet yang kandungan intinya berupa bubuk memiliki berbagai jenis. Bahan tersebut dicampurkan dengan air pada kadar campuran tertentu (lihat SNI-3233-1992) dan metode pengawetannya bermacam-macam.

Borax menjadi salah satu bahan yang digunakan untuk mengawetkan kayu dari metode vakum, pencelupan dingin, pencelupan panas (rebus) hingga metode pemolesan.


Tindakan pencegahan
Namun demikian dalam hubungannya dengan lingkungan dan kesehatan pemakai, pengawetan kayu pada perabot sebaiknya memhatikan hal-hal berikut:

1. Jangan lakukan pengawetan kayu apabila produk furniture yang akan anda produksi terdapat kontak langsung dengan makanan, misalnya: piring, rak makanan dll. Bahan kimia preservatives akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan konsumen.
2. Jangan mengawetkan kayu yang akan digunakan untuk bagian top table.
3. Gunakan bahan pengawet, apabila memungkinkan, hanya pada area yang mudah terlihat misalnya lantai kayu, decking dan panel dinding.
4. Hindari penggunaan kayu yang diawetkan untuk kontruksi yang berpotensi kontak langsung dengan air minum dan air bersih, misalnya struktur jembatan.
5. Buanglah sisa-sisa kayu yang diawetkan dengan cara dikubur atau sampah biasa. Jangan dibakar atau digunakan untuk pembakaran kompor, api penghangat ruangan karena asapnya yang mengandung bahan kimia bisa berubah menjadi asap.
6. Hindari diri anda dari debu gergaji atau amplas terlalu banyak, gunakan masker yang memadai.
7. Terutama bagi anda yang bekerja di area pengawetan kayu dan/atau yang kontak langsung dengan bahan kimia tersebut, cucui bersih tangan dan bagian tubuh anda hingga benar-benar bersih sebelum makan atau minum.
8. Apabila baju yang anda kenakan terdapat kemungkinan terkena percikan bahan kimia atau debu dan cara kontaminasi lainnya, pisahkan pakaian tersebut dari yang lain pada saat pencucian.

Caliper; Review dan Ringkasan Fungsi


Suatu alat ukur dalam bentuk dan format lain daripada meteran roll ataupun lipat. Alat ini paling berfungsi banyak di area produksi komponen kayu. Sangat berguna untuk mendapatkan kontrol ukuran dan dimensi yang presisi dan akurat. Ketebalan kayu, kedalaman lubang pen, diameter lubang dowel dan diameter dowel itu sendiri bisa diukur dengan baik oleh caliper. Meteran tidak mampu menjalankan tugas tersebut sebaik caliper.


Bagian-bagian Caliper

1. Gigi luar: berfungsi untuk mengukur dimensi luar (tebal, lebar atau Ø batang kayu)
2. Gigi dalam: untuk pengukuran bagian dalam (lebar lubang pen, Ø lubang bor, alur dll)
3. Pengukur kedalaman: Paling baik untuk pengukuran dalam lubang pen, lubang bor dan lubang alur.
4. Ukuran utama (cm): skala utama yang digunakan untuk membaca hasil pengukuran.
5. Ukuran sekunder (inch): skala alternatif dalam satuan inch.
6. Patokan pembacaan skala utama (cm)
7. Patokan pembacaan skala sekunder (inch)
8. Untuk menghentikan atau melancarkan geseran pengukuran.

Skala Ukuran
Dengan bentuk batangan yang sama terdapat media pembacaan ukuran yang berbeda pada caliper. Pertama dengan cara pembacaan biasa seperti pada meteran roll, lalu ada yang menggunakan jarum ukuran analog yang ditempelkan pada bagian muka (dengan stopper) ataupun menggunakan display digital.

Jenis mana yang paling baik dan sesuai dengan anda adalah relatif karena masing-masing memiliki kelemahan. Jenis yang menggunakan skala analog ataupun digital memiliki kemungkinan perubahan skala baca setelah digunakan selama waktu tertentu.
Dari itulah alat ini perlu di'kalibrasi' lebih sering dibandingkan yang biasa.
bagi mereka yang kurang paham tentang cara membaca yang akurat, jenis ini lebih baik karena langsung menghadirkan ukuran dalam skala 2 angka desimal.

Bagi seorang QC, alat ini layaknya sebuah SIM yang harus dibawa kemanapun dia berada. Setiap minimal setahun sekali harus dilakukan 'kalibrasi', semacam pemeriksaan berkala apakah alat ukur tersebut masih layak digunakan dan sesuai dengan standar internasional yang berlaku.

Di beberapa tempat menggunakan jenis caliper yang dibuat dari bahan plastik. Tentu saja kualitas alat itu sangat diragukan mengingat plastik merupakan bahan yang kurang stabil dan bisa berubah bentuk karena benturan dan lainnya. Bahkan yang telah terbuat dari material logam-pun masih perlu diragukan keakuratannya.

Caliper yang baik terbuat dari bahan bernama INOX, logam keras yang ringan, awet dan tahan karat.

Kalibrasi bisa dilakukan secara sederhana oleh internal atau meminta pihak lain yang lebih kompeten.
Apakah Caliper anda masih layak untuk dipakai sebagai alat ukur?

Kayu Merbau (Intsia Palembanica)

Kayu Merbau mudah dikenal tekstur seratnya yang berwarna merah kecoklatan dan banyak digunakan untuk panelling, lantai parket, pintu dan jendela. Kayu ini masuk kategori kayu keras dan dengan tekstur yang dimilikinya membuat Merbau menjadi sebuah simbol eklusifitas dalam interior.



Area Tumbuh: Indo-Malayan, Philipina, Indonesia, Australia dan Kepulauan Pacific Barat. Paling besar terdapat di Sumatra, Kalimantan, Maluku dan Irian.

Pohon: Diameter pohon merbau bisa mencapai 150cm dan tinggi 15 meter.

Warna Kayu: Kayu glubal Merbau berwarna agak kekuningan dengan ketebalan 4-5 cm. Batas antara kayu gubal dan kayu teras cukup jelas. Bagian kayu terasnya berwarna Kekuningan dan oranye pada saat dibelah, dan akan berubah coklat kemerahan setelah beberapa waktu. Pada pori-porinya seringkali terlihat garis-garis pendek dan halus berwarna kuning.

Densitas: 740 - 900 kg/m3, rata-rata 800 kg/m3 pada level MC 12%

Pengeringan: Direkomendasikan untuk pengaturan suhu pengeringan antara 43 - 71 °C dan pada kelembaban udara 83 - 38 %

Proses mesin: Cukup keras dan akan banyak mematahkan mata gergaji apabila pengerjaan kurang hati-hati dan melebihi standar pengaturan. Akan tetapi pada pengamplasan termasuk baik dan halus.



PHYSICAL PROPERTIES

Specific gravity (densitas): 0.84 (0.63 - 1.04) g/cm3
Kelas Awet: II
Penyusutan: 0.6% (Radial) and 0.7% (Tangential).
Fibre Saturation Point: 24 %

FUNGSI

Kayu Merbau biasanya digunakan untuk membuat parket (flooring), furniture, decking dengan finger joints, panel, musik instrumen dan lainnya.


Sebagian data dikutip dari Indonesia Wood Atlas Volume II, 1989; Department of Foresty Agency for Forestry Research and Development Forest Product Research and Development Centre Bogor-Indonesia

Resiko Kesehatan Penggunaan MDF

MDF dibuat dari batang kayu terutama bagian cabang (diameter kecil) atau jenis kayu yang tidak memiliki nilai kekuatan tinggi yang dicampur dengan bahan pengikat sehingga menjadi lembaran-lembaran papan. Proses produksi yang melalui begitu banyak langkah kerja menghasilkan beberapa hal yang bisa menimbulkan resiko bagi kesehatan kita sebagai 'end user' maupun sebagai produsen.


Debu
Pada setiap lembar MDF yang anda terima dari gudang distribusi anda bisa temukan lapisan tipis debu pada permukaan MDf. Debu tersebut sangat kecil ukuran partikelnya dan berpotensi menimbulkan asma terutama bagi pekerja di area produksi (pembelahan, pemotongan, amplas dan lainnya).
Atau pada furniture kantor, meja komputer dan kabinet TV yang baru saja anda beli, akan bisa ditemukan lapisan debu yang tipis (terutama pada bagian bawah). Resiko ini lebih besar akan berhubungan langsung dengan pekerja pabrik furniture. Oleh karena itu penting untuk diketahui dan dimengerti untuk senantiasa menggunakan jenis masker yang tepat bagi karyawan yang bekerja di area produksi.

Formaldehyde
Pada dasarnya, produksi papan buatan menggunakan lem yang dibuat dari resin Formaldehyde untuk merekatkan partikel kayu dan debu menjadi lembaran papan. Bahan Kimia Formaldehyde dikenal bisa menyebabkan iritasi mata, hidung, tenggorokan dan bahkan paru-paru walaupun hanya pada level kontak yang rendah.
Menurut IARC (International Agency for Research on Cancer), sebuah sub organisasi dari WHO (World health Organization) menemukan bahwa debu kayu merupakan 'carcinogen'(penyebab kanker) dan Formaldehyde juga disebutkan adanya kemungkinan yang sama pada level carcinogen 3, yang berarti memiliki potensi untuk menjadi penyebab kanker, sehingga pada pemakaiannya harus diberikan pengganti apabila memungkinkan atau mengurangi pemakaiannya sekecil mungkin.

Bagi konsumen pemakai, apabila anda baru saja membeli sebuah set furniture almari atau meja kerja yang terbuat dari lembaran papan MDF atau partikel board lainnya, aroma khas akan keluar dari furniture anda dan kadang-kadang akan terasa pedih di mata apabila kita terlalu dekat terutama ketika membuka pintu. Itulah sebabnya sebaiknya apabila baru saja membeli almari yang terbuat dari bahan papan buatan, sebaiknya biarkan pintu-pintunya terbuka selama beberapa hari sebelum digunakan.

Standar Amerika dan Australia membatasi emisi Formaldehyde pada MDF maksimum 0.3 ppm (parts per million). Di jerman dan beberapa negara Skandinavia justru memberikan batas lebih rendah yaitu 0.1 ppm. Pengukuran kadar emisi Formaldehyde ini bisa diketahui melalui pemeriksaan laboratorium dengan metode khusus.


Tindakan Preventif
Pemilik perusahaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan kesehatan dan keselamatan kerja bagi karyawan. Satu langkah yang bisa diambil adalah dengan 'hanya' menggunakan MDF E1 (low emission), yang berarti memiliki kandungan di bawah batas maksimum apabila memungkinkan. Beberapa produsen MDF saat ini juga telah mulai mempromosikan jenis MDF E1 yang sesuai dengan standar internasional.

Bagi produsen:
Debu dari proses MDF tidak mungkin dihindari, oleh karena itu untuk mengeliminasi resiko,
1. Ventilasi udara yang baik di dalam ruang produksi akan sangat berguna.
Exhaust harus bekerja dengan baik agar bisa dipastikan ruang produksi selalu bebas dari debu MDF.
2. Para karyawan yang bekerja juga harus selalu membersihkan tempat kerja agar bebas dari debu.
3. Manajemen harus menyediakan masker dan sarung tangan untuk menghindari kontak langsung dengan kulit, karena Formaldehyde bisa mengakibatkan iritasi kulit.
4. Karyawan harus selalu menggunakannya pada saat bekerja dengan MDF.
5. Melapis permukaan MDF dengan bahan finishing walaupun hanya dengan lapisan dasar.


Bagi Konsumen:
1. Biarkan pintu dan laci pada furniture yang baru saja beli terbuka tanpa digunakan selama beberapa hari atau minggu untuk 'melepaskan' kandungan Formaldehyde dari bahan papan buatan.
2. Tanyakan kepada penjual furniture tentang jenis MDF yang mereka gunakan. Untuk furniture menggunakan jenis E1 pasti lebih mahal.

Pembuatan Plywood (Multipleks)


Proses awal pada dasarnya sama dengan proses pembuatan vinir kayu karena plywood terbuat dari lapisan beberapa lembar vinir. Detail proses pembuatan vinir dapat dilihat di sini. Pembuatan papan buatan, dalam hal ini multipleks, adalah proses lanjutan dari pembuatan vinir.

Memilih Log
Langkah pertama dalam pembuatan papan buatan adalah memilih log. Log dipilih berdasarkan kelurusan dan diameternya bundar atau tidak. Log yang baik untuk pembuatan plywood adalah yang bebas dari mata kayu.

Debarking hingga Vinir Drying
Proses ini persis seperti yang dijelaskan pada proses pembuatan vinir.

Gluing
Aplikasi bahan lem menggunakan roller coater sistem dan lem yang digunakan adalah jenis urea resin atau phenol-Formaldehyde. Jenis lem yang mengandung formaldehyde diketahui kurang baik untuk kesehatan dan lingkungan yang mana bahan kimia yang digunakan untuk membuat lem ini bisa mengakibatkan penyakit kanker.
Oleh karena itulah beberapa konsumen besar saat ini mensyaratkan pabrik furniture mereka untuk menggunakan papan buatan yang bebas dari kandungan formaldehyde dengan cara melakukan test secara berkala.

Terdapat beberapa standar ukuran dan metode pengetesan untuk bahan kimia ini. Grade paling tinggi adalah E0 yang berarti NOL emisi. Kemudian terdapat grade E1, E2 san seterusnya.


Pressing
Lapisan-lapisan vinir diatur di bawah mesin press dengan tekanan tinggi hingga ketebalan yang diinginkan. Sebuah mesin press plywood bisa memuat sekaligus untuk 50 lembar plywood dalam sekali tekan selama 3-4 menit.
Dengan jenis lem yang berbeda, pressing bisa dilakukan dengan 2 metode yang berbeda, hot press dan cold press.

Hot Press: Lazim dilakukan untuk plywood dengan bahan baku softwood dengan suhu mencapai 120 °C selama hampir 10 menit. Akurasi waktu pengepressan, tingginya tekanan dan temperatur sangat penting pada proses ini.

Cold Press: Dilakukan dengan alat tekan hidrolik atau putar. Jenis lem yang digunakan biasanya adalah resin atau urea-formaldehyde yang memiliki proses pengeringan lebih lama. Pengepresan dilakukan selama 4-24 jam.


Cutting, Sanding
Lembaran-lembaran plywood yang telah kering kemudian di potong sesuai dengan ukuran standar arah panjang dan lebar. Permukaan plywood dihaluskan dengan mesin amplas dan cacat-cacat produksi dibersihkan atau diperbaiki.

Quality Control
Terdapat grade kualitas pada plywood yang dikenal dengan standar kualitas A hingga C. A mewakili kualitas paling tinggi dan C kualitas paling rendah. Standar kualitas untuk plywood antara lain: tidak terdapat 'overlap' vinir atau terkelupas, warna dan serat kayu dan akurasi ketebalan plywood.