Kelemahan QC

Anda pernah mendengar pertanyaan apakah QC memiliki kelemahan? Dalam arti pada proses produksi apakah dengan adanya QC berarti kualitas produk dijamin 100% akan sesuai dengan standar?
Siapapun yang terlibat di dalam pabrik furniture baik dari departemen perencanaan, persiapan bahan, produksi mesin, finishing hingga packaging tidak akan ada yang bisa menjamin bahwa produk yang dihasilkan akan 100% berkualitas baik. Didasari dengan sifat alami bahwa tidak ada yang sempurna, maka cacat produksi akan selalu timbul.

Itulah sebabnya setiap perusahaan selalu mengalokasikan biaya tersebut di dalam perhitungan biaya produksi maupun harga jual yang mana nilai prosentasenya akan berbeda-beda.

Kembali kepada keberadaan QC di dalam produksi, mereka tidak bertugas untuk membuat hasil produksi menjadi sempurna akan tetapi berfungsi untuk menekan tingginya volume produk dengan kualitas rendah. Misalkan dengan tidak adanya team QC di dalam produksi anda, terdapat barang yang berkualitas rendah sebanyak 50 unit dari total produksi 300 unit. Dalam hal ini QC berfungsi sebagai 'saringan' dan sistem kontrol untuk mengurangi angka 50 unit menjadi (jika memungkinkan) 0 unit.

Yang berperan utama dalam menciptakan kualitas produk yang baik sebenarnya adalah team produksi di dalamnya. Jika mereka terlatih dan memiliki skill yang baik dalam teknis pengerjaan kayu, maka produk yang akan dihasilkan juga berkualitas baik.

QC bertugas sebagaimana layaknya rambu-rambu lalu lintas dan polisi di jalan raya.
Mereka harus mengontrol produk agar tetap pada arah yang benar dan di sinilah tuntutan kerja sebagai QC untuk menjadi tegas dan disiplin.

Beberapa hal yang bisa mempengaruhi kualitas kerja QC:

1. Intervensi jadwal pengiriman dari marketing/produksi.
Jika team QC sudah terpengaruh dengan tekanan pihak logistik untuk memikirkan tentang jadwal pengiriman, maka kekuatan QC akan menjadi lebih lemah dan timbul beberapa toleransi kualitas yang berpotensi mengakibatkan penurunan kualitas produk.

2. Pengetahuan tentang standar kualitas
Mengetahui dengan jelas standar kualitas sangat penting bagi QC sehingga mereka tahu persis di mana letak kesalahan atau batas persyaratan kualitas yang harus dicapai. Akan lebih baik apabila seorang QC bisa memberikan jalan keluar pemecahan masalah teknis.

3. Disiplin
QC harus kuat menempatkan dirinya pada arah pekerjaan yang sama dan tidak berubah-ubah. Dalam arti toleransi kualitas yang diterapkan pada produksi memang perlu pada beberapa langkah pengerjaan dengan pertimbangan dari berbagai aspek, akan tetapi harus tetap berada pada jalur yang kuat. Akan berbahaya bagi kualitas produk apabila QC memiliki toleransi yang terlalu besar dan tidak didasarkan pada alasan teknis yang kuat.

4. Pertimbangan biaya
Kualitas berada pada prioritas utama bagi QC, walaupun pada prakteknya untuk mendapatkan kualitas baik dan sesuai standar akan menimbulkan aspek biaya, QC tidak boleh terpengaruh oleh pertimbangan tersebut.

Tugas QC secara umum
Memastikan bahwa semua produk yang dihasilkan pabrik memenuhi persyaratan kualitas dan sesuai dengan standar yang telah ditentukan.
Membuat tindakan pencegahan di dalam proses produksi dalam tujuannya untuk mencapai kualitas produk terbaik dengan cara mengikuti hampir setiap langkah pengerjaan dengan hati-hati.
Memberikan laporan atau peringatan kepada manager terkait dalam hubungannya apabila terjadi masalah kualitas yang bisa mempengaruhi perubahan jadwal dan biaya tambahan yang diakibatkan dari masalah kualitas tersebut.
Memberikan penjelasan yang detail dan baik di dalam produksi tentang kualitas seperti apa yang bisa diterima ataupun yang ditolak.

Wewenang QC secara Umum
Memiliki akses secara keseluruhan di setiap langkah produksi yang memiliki potensi dan andil dalam menentukan kualitas akhir suatu produk.
Melakukan tindakan penolakan dan selanjutnya pemberhentian proses produksi apabila dirasa kualitas produksi beresiko besar terhadap hasil keseluruhan.
Menerima atau menolak pengiriman barang dengan berdasarkan pemeriksaan berkala.

Tanggung Jawab QC secara umum
Menjaga kestabilan kualitas produk dari awal hingga akhir proses.
Meningkatkan senantiasa efisiensi pengawasan kualitas agar mampu membantu mengurangi resiko keterlambatan jadwal pengiriman maupun resiko biaya.
Seluruh produk yang dikeluarkan oleh pabrik/industri telah memnuhi standar kualitas teknis maupun keselamatan pengguna.

2 comments: