Hanya 12.72% yang Menjadi Perabot kayu


Pernahkah anda berpikir sejenak bahwa sebenarnya seberapa banyak limbah yang dihasilkan oleh industri kayu? Apa yang mereka lakukan dengan limbah pabrik furniture? Apa saja limbah yang dihasilkan?
Jawaban yang paling awal bisa ditemukan pastilah serbuk kayu.

Kita semua yang bekerja di industri kayu pasti pernah mendengar istilah rendemen. Istilah ini menjelaskan seberapa besar kayu gelondong yang dibutuhkan untuk membuat sebuah living room set. Untuk menghasilkan beberapa furniture dengan volume kayu 1 m3 (finished) dibutuhkan 2,5 - 6 m3 kayu gelondong (logs). Tergantung pula dari jenis kayu yang digunakan.

From the Forest
Dari sebatang pohon yang berdiri di dalam hutan melalui proses pemotongan hingga menjadi kayu gelondongan hanya tersisa 40-50% dari total volume kayu ketika pohon masih tegak berdiri. Mengapa?
(1) Pohon yang dipotong meninggalkan pangkal (sekitar 5-7% dari total volume pohon.
(2) Beberapa metode pemotongan menimbulkan pohon yang ditebang retak bahkan pecah sehingga mengurangi volume kayu gelondong.
(3) Hanya batang utama dengan ketinggian maksimum yang memiliki diameter tertentu untuk dijadikan bahan dasar furniture. Bagian lain seperti cabang atau ujung pohon hanya bisa dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuat kertas.
(4) Beberapa bagian pohon harus dibuang pada bagian tengah yang disebabkan karena luka pada waktu pohon ditumbangkan atau transportasi menuju log yards.

Logs
Dalam satu hektar luas hutan diperkirakan terdapat 900 - 1300 batang pohon yang berpotensi untuk ditebang sebagai bahan dasar furniture. Ini setara dengan sekitar 200m3 kayu gelondongan.
pada proses lain dari kayu gelondongan menjadi kayu gergajian melalui proses saw mill dan pengeringan, kayu gergajian yang dihasilkan hanya sekitar 45-53% dari total volume kayu gelondongan.

Prosentase ini benar2 dipengaruhi oleh beberapa hal sebagai berikut:
1. Penampang kayu gelondong apakah bulat, ellipse atau seperti bintang. Semakin bulat penampang kayu akan semakin besar kayu gergajian yang dihasilkan.
2. Kayu gelondong yang tidak lurus atau melengkung menghasilkan lebih sedikit kayu gergajian karena banyak bagian yang harus dipotong dan terlalu banyak limbah karena pemotongan arah panjang.
3. Metode pembelahan log. Ada beberapa istilah dikenal dengan nama quarter sawn, rift sawn dan plain sawn. Semua metode tersebut menghasilkan limbah dan optimasi yang berbeda terhadap volume kayu gergajian. Tergantung dari kebutuhan. Dari sisi efisiensi volume, metode plainsawn menghasilkan limbah paling sedikit.


4. Mesin dan alat bantu beserta pemeliharaannya. Pada beberapa jenis mesin gergaji memiliki ketebalan mata gergaji yang lebih lebar sehingga bagian kayu yang menjadi serbuk lebih besar.


Sawn Timber
Proses pengeringan bagaimanapun mengurangi volume kayu bersamaan dengan keluarnya kandungan air di dalam kayu. Sangat kecil prosentasenya ketika kayu tidak berubah bentuk, maksimum 1% dari ketebalan kayu. Penyusutan setelah pengeringan menjadi masalah ketika kayu berubah bentuk, melengkung atau bahkan retak. Volume ini juga termasuk dalam limbah karena tidak dapat dipergunakan sesuai kebutuhan.
Minimal 40% dan maksimal 60% dari volume kayu gergajian kita bisa hasilkan ukuran akhir sebuah produk. Apabila jenis kayu memiliki kekerasan yang cukup (high density) limbah yang dihasilkan akan lebih sedikit.

Faktor yang mempengaruhi:
1. Kualitas proses penggergajian. Semakin kasar penggergajian akan membuat limbah semakin besar.
2. Ukuran akhir kayu. Kayu tipis & pendek memiliki limbah yang lebih besar karena proses pembelahan maupun pemotongan lebih banyak. Dari sinilah pada dasarnya produk dengan ukuran komponen besar seharusnya secara global memiliki 'recovery' lebih besar yang pada akhirnya harga jual per meter kubik lebih murah.
3. Posisi komponen pada produk. Kayu pada permukaan meja memerlukan proses lebih banyak daripada komponen di bawah meja yang cukup dengan proses serut tanpa harus melalui proses ampelas.

Pra-kesimpulan dari informasi di atas terlihat hanya maksimum 25% dari kayu gelondongan yang bisa dipakai menjadi sebuah furniture dan 75% adalah limbah.

Pohon --> kayu gelondongan: 40%
Kayu Gelondong --> kayu gergajian: 40% x 53% = 21.2%
Kayu Gergajian --> ukuran jadi: 21.2% x 60% = 12.72%

Dari sebuah pohon di hutan hanya maksimum 12.72% yang menjadi sebuah perabot kayu di rumah kita! Dan ini adalah nilai paling tinggi.
bagian pohon yang lain 87.18% memang masih memiliki nilai ekonomi akan tetapi nilai tersebut masih jauh di bawah nilai perabot kayu.

Apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan 'utility' kayu tersebut?

1 comment:

  1. gan... saya minta artikelnya ya... buat referensi tugas di kampus... hehehe... mayan miris saya ngeliatnya... bener2 useless banget kayu-kayu yang nggak kepake itu...

    ReplyDelete