Kayu Keruing (Dipterocarpus spp.)

Kayu Keruing Di dunia perkayuan, nama Keruing (Dipterocarpus spp.) cukup populer karena merupakan "tulang punggung" yang tak tergantikan. Terutama di Kalimantan, kayu keruing dianggap setara dengan kayu jati dalam hal kekerasan.

Kayu ini sering digunakan untuk konstruksi berat, rangka atap, dan lantai (decking) karena kualitasnya yang tinggi dan harganya yang lebih ekonomis dibandingkan kayu jati.

Karena kekerasannya, Keruing menjadi kayu primadona untuk lantai Truk dan Kontainer karena ketahanannya terhadap benturan dan gesekan. Selain itu kayu keruing juga digunakan sebagai bantalan rel kereta api (setelah diawetkan), balok jembatan, dan kerangka atap rumah dan bangunan.


Karakteristik

Nama Lokal:
Apitong

Warna:
Kayu terasnya bervariasi dari cokelat kemerahan hingga cokelat tua, yang akan menggelap seiring bertambahnya usia.

Serat Kayu dan Tekstur:
Kayu ini memiliki arah serat yang umumnya lurus hingga sedikit menyilang (interlocked). Teksturnya berada di tingkat menengah hingga kasar, dengan kilau alami moderat yang memberikan kesan elegan dan autentik pada hasil akhir kayu.

Kandungan Resin (Damar):
Salah satu ciri unik Keruing adalah kandungan minyak atau resinnya yang tinggi. Hal ini memberikan aroma khas dan meningkatkan ketahanan alami terhadap air, namun memerlukan teknik khusus dalam proses pengeringan dan pengeleman.

Keawetan dan Kekuatan:
Secara umum, Keruing masuk dalam Kelas Kuat I-II dan Kelas Awet III. Meskipun daya tahannya terhadap rayap tanah tidak sekuat kayu Ulin, strukturnya sangat stabil untuk beban berat.

Selain dipakai untuk untuk lantai atau bahan konstruksi, kayu keruing juga digunakan untuk membuat furniture luar ruangan, namun tetap saja harus dilakukan perawatan yang tepat (seperti pemberian oil finish).

Meskipun jenis kayu ini tidak terdaftar dalam Lampiran CITES, dan perlu dicatat bahwa banyak spesies dari genus Dipterocarpus masuk ke dalam Daftar Merah IUCN. Jenis kayu ini dikategorikan sebagai terancam punah (critically endangered) karena penurunan populasi lebih dari 80% dalam tiga generasi terakhir.

Penurunan ini disebabkan oleh eksploitasi berlebihan serta berkurangnya habitat hutan alami secara signifikan.


---

Eko HIDAYAT

Profesional dalam industri kayu dan bisnis terkait furniture | Founder tentangkayu.com

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama